Fakta Nasional

Viral Harga Asli Pertalite Tembus Rp18.040, Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Penjelasan Pertamina

FAKTANASIONAL.NET — Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh unggahan struk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang mencantumkan "harga keekonomian" sebesar Rp18.040 per liter. Angka tersebut memicu tanda tanya besar di kalan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 16 June 2026 📖 2 menit
Viral Harga Asli Pertalite Tembus Rp18.040, Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Penjelasan Pertamina
PT Pertamina Patra Niaga mengoptimalkan armada tangki dan jam operasional depo untuk mempercepat penyaluran BBM guna mengantisipasi antrean di tingkat retail./Dok. Ist.

FAKTANASIONAL.NET — Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh unggahan struk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang mencantumkan "harga keekonomian" sebesar Rp18.040 per liter.

Angka tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan netizen, mengingat harga jual Pertamax saat ini "hanya" berada di angka Rp16.250 per liter.

Menanggapi hal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga angkat bicara dan membenarkan bahwa angka Rp18.040 per liter itu adalah nilai keekonomian asli dari Pertalite pada periode berjalan.

"Betul, ada unsur subsidinya makanya hanya dijual Rp10.000 per liter," ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, Senin (15/6/2026).

Roberth menegaskan bahwa penentuan regulasi dan besaran subsidi sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Pertamina, dalam hal ini, murni bergerak sebagai operator yang menjalankan mandat penyaluran di lapangan.

Baca Juga: Era ‘Easy Energy’ Berakhir, Pemerintah dan Pertamina Genjot Produksi Domestik Demi Hadapi Krisis Geopolitik Global

Sebagai Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP), Pertalite disuntik subsidi besar-besaran dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Subsidi bertujuan untuk menjaga kestabilan nasional dari sisi menjaga daya beli dan roda perekonomian masyarakat. Subsidi diberikan untuk melindungi masyarakat menengah ke bawah supaya tetap bisa beraktivitas dan menjaga daya beli," jelas Roberth.

Dengan demikian, selisih harga sekitar Rp8.000-an per liter antara harga pasar asli dengan harga tebus konsumen sepenuhnya ditanggung oleh APBN. "Benar, besaran Rp8.000-an itu adalah beban subsidi yang ditanggung pemerintah," tambahnya.

Harga Pertamax Saat Ini Juga Belum Harga Pasar Asli

Terkait pertanyaan mengapa harga keekonomian Pertalite tampak lebih tinggi dari Pertamax, Roberth meluruskan bahwa harga Pertamax yang dibanderol Rp16.250 per liter saat ini sebenarnya juga belum mencerminkan harga keekonomian pasar yang sesungguhnya.

Sebelum akhirnya dinaikkan pada 10 Juni lalu, pemerintah dan Pertamina sengaja menahan harga Pertamax sejak April 2026 meskipun tren harga minyak mentah dunia sedang melonjak tinggi. Kenaikan yang terjadi baru-baru ini pun diklaim baru menyentuh setengah dari hitungan formula aslinya.

"Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50 persen dari harga keekonomian," ungkap Roberth.

Oleh sebab itu, Roberth menegaskan bahwa jika formula harga keekonomian murni diterapkan tanpa adanya intervensi pada kedua jenis BBM tersebut, posisi Pertamax dipastikan akan tetap jauh lebih mahal daripada Pertalite.

"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi. Poin penting saat ini adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya dan juga Pertamina," pungkasnya.

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 di Seluruh Indonesia, Ini Rincian Lengkapnya


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK