Daerah  

Pacu Hilirisasi di Papua: Pemerintah Optimalkan Dana Otsus dan Kucurkan Anggaran Rp5,5 Triliun

Pemerintah pusat berkomitmen memperkuat hilirisasi dari hulu ke hilir di Tanah Papua dengan mengoptimalkan Dana Otsus serta mengucurkan anggaran sektor pertanian total Rp5,5 triliun demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi kampung./Dok. Setwapres

FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah terus memperkuat program hilirisasi di Tanah Papua demi memperluas nilai tambah ekonomi.

Langkah strategis ini diambil untuk membuka ruang pertumbuhan baru bagi masyarakat Bumi Cenderawasih, sekaligus memastikan warga lokal tidak lagi sekadar menjadi penonton dan penghasil bahan mentah.

Dalam rangkaian kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Papua Barat pada Minggu (21/6/2026), pemerintah kembali menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan Dana Otonomi Khusus (Otsus).

Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan industri komoditas unggulan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dana Otsus Fokus ke Sektor Produktif Kampung

Baca Juga: Aliansi PERISAI Serukan 8 Tuntutan Untuk Rezim Prabowo-Gibran: Batalkan ATR dan Tolak Pembungkaman Sipil!

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menegaskan, pemanfaatan Dana Otsus kini diarahkan agar semakin tepat sasaran, terutama dalam mendorong pertumbuhan sektor produktif yang dikelola langsung oleh masyarakat.

“Ini adalah hasil dari implementasi Dana Otsus yang baik. Tetapi yang paling penting bukan hanya pembangunan fisik, melainkan bagaimana hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat di kampung-kampung,” ujar Ribka Haluk dikutip Selasa (23/6/2026).

Menurut Ribka, indikator keberhasilan program ini harus diukur dari peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan kerja baru, serta hidupnya aktivitas ekonomi lokal.

Hilirisasi menjadi kunci agar kekayaan alam Papua tidak buru-buru dibawa keluar dalam bentuk mentah, melainkan diolah di dalam daerah untuk kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP).

Hilirisasi Sagu Berbasis Komunitas dan Budaya

Di tingkat akar rumput, pendekatan hilirisasi disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Penanggung Jawab Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats, Anton, menilai bahwa hilirisasi akan jauh lebih efektif jika menggunakan pendekatan berbasis komunitas dan budaya lokal.