Rupiah Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS pada Senin Pagi, Analis Ingatkan Risiko Geopolitik

Ilustrasi - NGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama jajaran Dewan Gubernur mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta./Dok. mandiriamalinsani.or.id

FAKTANASIONAL.NET  — Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.865 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/6/2026) pagi.

Mata uang Indonesia tersebut mencatatkan penguatan sebesar 57 poin atau 0,32 persen dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan positif rupiah ini sejalan dengan beberapa mata uang di kawasan Asia yang juga terpantau bergerak di zona hijau. Ringgit Malaysia memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan 0,40 persen, diikuti oleh peso Filipina yang menguat tipis 0,06 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, mayoritas mata uang Asia lainnya justru menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan terkoreksi paling dalam sebesar 0,49 persen, disusul yuan China yang turun 0,07 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yen Jepang turun 0,02 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Di pasar negara maju, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Dolar Kanada bergerak menguat 0,03 persen dan euro Eropa naik tipis 0,01 persen, sementara poundsterling Inggris bergerak stabil.

Di sisi lain, dolar Australia melemah 0,16 persen dan franc Swiss turun 0,02 persen terhadap dolar AS.

Baca Juga: Kurs Rupiah Diprediksi pada Selasa Bergerak Sampai 17.860 Rupiah per Dolar AS, Analis: Penyebabnya Perundingan AS-Iran Lemah

Prospek Pelemahan Akibat Sentimen Timur Tengah

Meski dibuka menguat pada pagi hari, rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan sepanjang hari ini akibat kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa eskalasi militer yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang.

“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring kembali terjadinya eskalasi di Timur Tengah oleh saling serang antara Iran dan AS, memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan dan kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman Leong pada Senin (29/6/2026).

Berdasarkan analisis tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah akan berfluktuasi di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.831 per Dollar AS, IHSG Melonjak 3,43 Persen