MALAM itu, panggung pemberantasan korupsi berubah menjadi sebuah arena yang mengundang lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Kepolisian bergerak serentak melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi dalam penyidikan dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang yang berkaitan dengan beberapa perkara besar.
Dari sebuah brankas di Kafe de’Clan Signature, Cipete, aparat menyita uang dalam berbagai mata uang asing senilai puluhan miliar rupiah.
Di lokasi lain, sebuah money changer juga digeledah dan menghasilkan temuan miliaran rupiah dalam valuta asing.
Operasi berlanjut ke sebuah rumah di kawasan Sentul dengan hasil penyitaan emas batangan puluhan kilogram beserta uang asing.
Sampai di titik ini, publik melihat sebuah operasi penegakan hukum yang lazim. Barang bukti dipamerkan. Nilainya fantastis. Perkaranya besar. Semuanya tampak mengikuti pola yang selama ini dikenal dalam pengungkapan kasus-kasus korupsi kelas kakap.
Namun beberapa jam kemudian, perhatian publik bergeser.
Di saat berita mengenai penyitaan uang dan emas masih memenuhi ruang informasi, rumah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) mendadak dijaga puluhan prajurit TNI.
Hampir seketika, ruang publik dipenuhi berbagai spekulasi. Benarkah akan ada penggeledahan? Apakah pengamanan itu berkaitan dengan operasi yang sedang berlangsung? Ataukah ada alasan lain yang sama sekali berbeda? Hingga tulisan ini disusun, belum ada penjelasan resmi yang secara utuh menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Dalam negara hukum, kekosongan informasi hampir selalu menjadi pupuk paling subur bagi tumbuhnya kecurigaan.
