KITA lanjutkan drama Brankas Cipete. Tentu pertarungan antara Polri dan Kejaksaan semakin panas. Masing-masing adu kekuatan. Sementara rakyat hanya bisa menonton, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Semuanya berawal dari sebuah kafe di Cipete yang tadinya cuma dikenal sebagai tempat nongkrong sambil menyeruput kopi. Siapa sangka, tempat mestinya dipenuhi aroma espresso itu mendadak berubah menjadi lokasi lebih ramai dari konser musik.
Kortas Tipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya datang bukan membawa gitar, melainkan gerinda, ahli kunci, tas barang bukti, dan wajah-wajah serius yang membuat satpam kompleks mendadak minder.
Yang digeledah bukan satu lokasi. Bukan dua. Bukan lima. Tetapi tiga belas. Tiga belas lokasi! Kalau pencarian harta karun bajak laut saja mungkin tidak sebanyak itu.
Puncaknya ada di sebuah ruko kosong di Jalan Asem II. Ruko tanpa nama. Ruko tanpa aktivitas. Tetapi pintunya dijaga begitu rapat sampai polisi harus memanggil ahli kunci dan menggerindanya.
Ini luar biasa. Di Indonesia, ternyata pintu kosong pun punya tingkat kerahasiaan setara ruang peluncuran rudal.
Begitu pintu terbuka, penyidik menemukan dokumen, komputer, telepon seluler, uang berbagai mata uang, emas batangan 74 kilogram, dan barang-barang lain yang kalau ditotal nilainya mencapai sekitar Rp543 miliar.
Lima ratus empat puluh tiga miliar! Angka sebesar itu membuat mesin penghitung uang mungkin minta cuti karena jarinya pegal. Kalau uang sebanyak itu ditukar menjadi uang seribuan, mungkin bisa dipakai membuat jembatan dari Cipete sampai Pontianak.
Yang bikin rakyat garuk-garuk kepala bukan nilai uangnya. Tetapi papan skornya. Barang bukti sudah setinggi Gunung Semeru. Emas sudah seberat anak gajah. Lokasi penggeledahan sudah tiga belas. Tetapi tersangkanya? Sampai tulisan ini dibuat, tidak ada.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto tetap tenang. Semua masih penyidikan. Belum ada tersangka. Secara hukum, memang begitu jalurnya. Penyidik harus mencari alat bukti yang cukup sebelum menetapkan status seseorang. Tetapi bagi netizen +62, logika kadang kalah cepat dibandingkan kuota internet.
Belum habis publik menghitung nol pada angka Rp543 miliar, Jampidsus Febrie Adriansyah muncul. Banyak orang mengira beliau akan menggelar konferensi pers bertema “No Comment.” Eh…yang keluar justru jurus baru. Kalau di anime namanya jurus pamungkas. Kalau di sepak bola namanya serangan balik. Kalau di Indonesia namanya…”Ada 47 nama.”
Boom! Jagat media sosial langsung meledak seperti promo tanggal kembar. Sebelumnya hanya disebut 41 nama. Sekarang berkembang menjadi 47.











