Jawa Timur masih menjadi sentra produksi jeruk nasional dengan kontribusi mencapai 47,42%, diikuti oleh Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.
Meski pasokan lokal kuat, produk buah impor masih terus membanjiri pasar dan bersaing ketat di tingkat konsumen.
Dominasi jeruk segar dalam neraca perdagangan juga menjadi catatan khusus. Pada 2025, impor jeruk segar mencapai 185.761 ton, jauh melampaui produk olahan.
Peta perdagangan yang terkonsentrasi menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki keunggulan geografis untuk berproduksi, posisi Indonesia dalam perdagangan global masih tergolong lemah.
Kondisi ini menegaskan bahwa peningkatan hasil panen saja tidak cukup untuk menjadi pemain besar di pasar dunia.
Tantangan nyata bagi industri jeruk nasional ke depan adalah meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Tanpa perbaikan kualitas dan efisiensi rantai pasok ekspor, Indonesia akan terus berada dalam bayang-bayang impor untuk memenuhi kebutuhan buah jeruk di dalam negeri yang terus tumbuh seiring waktu.[dit]











