Di titik inilah teori konspirasi berkembang lebih subur dari rumput setelah hujan. Ada bertanya, jangan-jangan sengaja disembunyikan supaya tidak membuka rahasia-rahasia besar yang bisa membuat gedung penegak hukum bergoyang. Ada pula berspekulasi lebih jauh, jangan-jangan kasus ini sengaja dibuat masuk kulkas, didinginkan perlahan sampai publik lupa sendiri. Atau, jangan-jangan sudah dilenyapkan?
Semua itu tentu hanya pertanyaan dan spekulasi belum terbukti. Namun ruang kosong informasi memang selalu menjadi pupuk paling ampuh bagi imajinasi publik.
Media internasional pun ikut melirik. Al Jazeera, Reuters, Nikkei Asia, hingga The Straits Times memberitakan mundurnya jaksa antikorupsi papan atas setelah penggeledahan besar dan penyitaan aset dalam jumlah fantastis. Mereka juga menyoroti munculnya pertanyaan mengenai kredibilitas penegakan hukum di Indonesia. Sementara di dalam negeri, masyarakat disuguhi tontonan persatuan, soliditas, dan harmoni antarlembaga. Rasanya seperti menonton pertandingan tinju yang berakhir sebelum bel berbunyi karena kedua petinju malah saling berpelukan.
Ironinya memang sulit ditandingi. Dulu Febrie dikenal sebagai sosok rajin menggeledah dan menyita harta para tersangka korupsi. Kini namanya justru dikaitkan dengan penyitaan emas bertumpuk dan dolar berjibun. Publik sempat berharap akan muncul babak penahanan yang dramatis. Yang datang justru kalimat manis, “kasus ditangani Kejagung demi sinergi.”
Kalau di kebun ada istilah jeruk makan jeruk, maka ini sudah masuk kategori jeruk makan satu truk jeruk sambil minum jus jeruk.
Jadi, di mana sebenarnya Febrie sekarang? Tidak ada jawaban pasti yang bisa dibuktikan. Yang ada hanyalah ruang kosong yang terus diisi pertanyaan. Rakyat akhirnya cuma bisa menggeleng sambil menyaksikan alur cerita yang berubah lebih cepat daripada sinetron kejar tayang. Kemarin ribut, hari ini akur. Kemarin panas, hari ini adem. Kemarin tersangka, hari ini… entahlah, seperti mode siluman yang hanya muncul saat cutscene. Kalau besok tiba-tiba muncul dengan senyum lebar sambil berkata, “Saya cuma healing,” mungkin publik sudah tidak kaget lagi. Di republik ini, kadang yang paling sulit dicari bukan barang bukti, melainkan kepastian.
Penulis: Jamani











