Selain pencopotan presiden, kebijakan baru mencakup reformasi yudisial, pembatasan masa jabatan parlemen selama 12 tahun, hingga pembentukan badan khusus untuk mengusut dugaan penyalahgunaan keuangan era pemerintahan lama.
Sulyok kini diberikan waktu lima hari untuk menandatangani amendemen tersebut, atau parlemen akan menempuh jalur pemakzulan secara hukum.
Aksi boikot yang dilakukan oleh faksi Partai Fidesz di parlemen gagal menghambat langkah koalisi pemerintahan baru. Ketegangan memuncak ketika PM Magyar melabeli Sulyok sebagai boneka politik Orban dan meluncurkan “Operasi Api Pembersih”.
Upaya ini dinilai krusial untuk mencegah kebuntuan politik di masa depan, mengingat posisi presiden meski seremonial, memiliki wewenang hukum kuat untuk menjegal agenda reformasi pemerintah.
Dengan langkah ini, Partai Tisza bertekad membersihkan sisa-sisa pengaruh rezim lama demi menciptakan masa depan politik Hungaria yang lebih independen.[dit]











