Dilayani 500 armada bus Listrik dan 9 naming right, yaitu Bundaran HI Astra, Senayan Bank Jakarta, Swadarma Paragon Corp. D’Masif Petukangan, Cawang Sentral 1 Polypaint, Widya Chandra Telkomsel, Senen Toyoyta Rangga, Smabel, dan Rawa Selatan STIAMI.
*Pertumbuhan Transjakarta dari tahun ke tahun*
Perluasan jaringan transportasi di DKI Jakarta tumbuh signifikan sepanjang periode 2018–2025, di mana jumlah rute meningkat 1,5 kali lipat dari 156 menjadi 233 rute. Ekspansi koridor ini secara langsung mendorong peningkatan cakupan layanan operasional secara masif, yaitu dari 67% menjadi 92,4% populasi yang terlayani, atau setara dengan kenaikan 1,4 kali lipat.
Aspek kualitas layanan juga menunjukkan tren positif sepanjang periode 2018–2025. Indeks Kepuasan Pelanggan (skala 5) mengalami peningkatan sebesar 10%, bergerak dari skor 4,0 menjadi 4,4. Pertumbuhan ini sejalan dengan capaian Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang naik sebesar 3%, dari semula 93,52% pada tahun 2018 hingga mencapai 96,64% pada tahun 2025.
Dari total 245 halte yang tersedia, proyek revitalisasi telah merampungkan 46 halte atau setara dengan 19%. Realisasi program ini berjalan secara bertahap sejak tahun 2022 dengan penyelesaian awal sebanyak 22 halte, kemudian meningkat secara akumulatif menjadi 39 halte pada tahun 2023, hingga mencapai target akhir 46 halte pada tahun 2025.
Sepanjang periode 2023–2026, segmen penumpang yang menikmati fasilitas tarif gratis mencatat volume yang cukup besar, yakni sebanyak 59.503.614 pelanggan. Angka ini merepresentasikan sekitar 5,1% dari keseluruhan total pelanggan Transjakarta yang mencapai 1.166.270.570 penumpang pada periode yang sama.
Fasilitas tarif gratis ini diserap oleh 15 golongan masyarakat. Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi pengguna terbesar dengan 34.542.739 pelanggan, disusul oleh siswa penerima KJP & KJM (7.726.988 pelanggan), ASN Pemprov DKI Jakarta (4.247.976 pelanggan), petugas PJLP & non-ASN (3.752.383 pelanggan), serta penghuni rumah susun (3.686.350 pelanggan).
Selanjutnya, kategori swasta penerima KJP mencatat 1.610.200 pelanggan, penyandang disabilitas 1.355.665 pelanggan, anggota TNI & Polri 821.545 pelanggan, juru pemantau jentik (jumantik) 777.959 pelanggan, dan guru PAUD 559.425 pelanggan. Sementara itu, kelompok dengan volume di bawah lima ratus ribu meliputi penerima raskin/bantuan pangan (313.319 pelanggan), penduduk Kepulauan Seribu (56.259 pelanggan), pengurus rumah ibadah (24.020 pelanggan), Tim Penggerak PKK (15.009 pelanggan), dan veteran (13.777 pelanggan).
Memasuki tahun 2026, kebijakan ini diperluas untuk mencakup karyawan swasta berpenghasilan setara UMP atau di bawah Rp6,2 juta.
*Catatan penutup*
Secara keseluruhan, pencapaian rekor keterangkutan 1,5 juta pelanggan per hari serta pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang terus membaik mengukuhkan Transjakarta sebagai tulang punggung mobilitas DKI Jakarta.
Kendati demikian, penambahan perluasan kelompok penerima tarif gratis dan komitmen elektrifikasi armada menuntut tata kelola keuangan yang adaptif agar lonjakan biaya produksi yang diproyeksikan mencapai Rp 5,5 triliun pada 2026 tidak memberikan tekanan fiskal yang berlebih bagi ketahanan anggaran daerah.
Keberhasilan pengelolaan Transjakarta di DKI Jakarta telah menjadi acuan strategis bagi pemerintah daerah lain dalam mengembangkan sistem transportasi publik yang modern. Kini, pemerintah daerah tidak lagi perlu melakukan studi banding ke luar negeri untuk mempelajari pembenahan transportasi umum; tata kelola sistem angkutan massal yang integratif dan memadai telah tersedia dan dapat direplikasi langsung dari Jakarta.
Penulis: Djoko Setijowarno (Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
