Gelombang kesedihan itu akhirnya membawa 18 gubernur mendatangi Kementerian Keuangan pada Oktober 2025. Mereka bukan datang membawa karangan bunga ucapan selamat. Mereka datang membawa kegelisahan. Maluku Utara kehilangan 60 persen DBH. Aceh dipotong 25 persen. Jambi ikut terpukul. Di Jawa Tengah, sejumlah kabupaten kehilangan 60–70 persen DBH. Pertanyaannya sederhana tetapi menyakitkan: bagaimana daerah bisa membayar PPPK, membangun jalan, memperbaiki sekolah, menjaga rumah sakit tetap hidup, jika ruang fiskalnya mendadak dipersempit?
Sementara itu, dari pusat terdengar istilah-istilah indah. Efisiensi, proporsional, penyesuaian fiskal. Kata-kata terdengar begitu rapi di atas podium, tetapi terasa begitu dingin ketika menghantam kehidupan masyarakat di daerah. Sarkasmenya begitu telanjang. Daerah menghasilkan minyak, gas, sawit, batu bara, kayu, dan berbagai kekayaan alam justru harus menerima potongan paling besar. Mereka menanggung jalan rusak akibat truk bertonase berat, menghadapi kerusakan lingkungan, konflik sosial, banjir, dan debu pembangunan. Ketika tiba waktunya menikmati hak fiskal mereka, yang datang justru gunting anggaran.
Beginikah wajah keadilan fiskal? Pusat berdiri gagah memamerkan keberhasilan nasional, sementara daerah-daerah penghasil kekayaan dipaksa menahan tangis agar tidak terdengar. Negeri ini seolah sedang memainkan sandiwara yang aneh: panggung utama dipenuhi sorak kemenangan, sedangkan ruang belakang dipenuhi isak tangis mereka yang selama ini menopang panggung itu berdiri.
Mungkin inilah satire paling getir tentang hubungan pusat dan daerah. Ketika angka-angka di layar presentasi tampak semakin indah, justru semakin banyak daerah yang harus mengencangkan ikat pinggang. Ketika kembang api keberhasilan fiskal dinyalakan di ibu kota, di banyak daerah yang menyala justru lampu-lampu kecemasan. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya menagih hak yang telah mereka hasilkan sendiri. Namun, dalam republik yang gemar merayakan statistik, suara pilu dari daerah sering kali tenggelam di balik riuh tepuk tangan kemenangan.
Penulis: Jamani (Analis Sosial Politik/Pegiat Media Sosial)











