Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat setelah konflik dengan Amerika Serikat (AS) memanas. Pada Juni lalu inflasi tahunan di negara tersebut meningkat dan mendekati 90%.
Pada akhir Desember 2026 protes yang semula dipicu biaya hidup yang tinggi menjadi demonstrasi anti-pemerintah secara luas. Aksi tersebut mencapai puncaknya pada 8-9 Januari.
Pemerintah Iran menyebut 3.000 lebih orang tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut dan menuding kekerasan dipicu oleh aksi teroris yang didalangi AS dan Israel.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di luar Iran memperkirakan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan itu jauh lebih tinggi. (adm)











