Opini  

Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Memasang Sudaryono

Namun, yang diwarisi Sudaryono bukan sekadar meja kerja dan stempel jabatan. Ia juga menerima PR nasional yang ukurannya tidak main-main. Hingga Mei 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencatat lebih dari 37.000 korban keracunan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sejak Januari 2025 hingga 10 Mei 2026 terdapat 37.673 korban dari 445 kejadian di 210 kabupaten/kota pada 36 provinsi. Sebanyak 2.348 orang menjalani rawat inap, 27.346 rawat jalan, dan 7.979 mengalami gejala ringan.

Data JPPI mencatat 37.270 korban, dengan Jawa Tengah menjadi provinsi tertinggi sebanyak 2.924 korban. KPAI melaporkan 2.144 korban dan 426 pengaduan, dengan penyebab dominan berupa kontaminasi E. coli, Bacillus cereus, jamur Candida, penggunaan bahan makanan yang tidak segar, hingga proses pembekuan yang buruk.

Sebaran kasus juga tidak merata. Jawa Tengah mencatat 2.924 korban, Jawa Timur 1.512 korban, Jawa Barat 793 korban, sedangkan Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Maluku, Riau, dan Papua Barat Daya belum melaporkan kasus. Bukan berarti wilayah itu steril. Bisa saja cakupan programnya memang masih lebih kecil.

Masalahnya pun bukan hanya soal keracunan. Baru sekitar 56–57 persen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Artinya, hampir separuh dapur masih berada di wilayah abu-abu standar keamanan pangan. Distribusi bahan makanan kerap terlambat. Sistem cold chain minim. Pengawasan lemah. Laporan sering terlambat. Transparansi anggaran dipertanyakan. Ketimpangan layanan antarwilayah masih nyata. Akibatnya, program yang sejak Januari 2025 telah mendistribusikan lebih dari 8 miliar porsi makanan justru berulang kali diterpa krisis kepercayaan.

Jadi, jabatan baru Sudaryono bukan hadiah, melainkan kursi panas yang alasnya sudah berubah menjadi kompor gas tiga tungku. Publik tidak membutuhkan pidato sepanjang rel kereta api. Rakyat ingin melihat dapur yang bersih, distribusi yang rapi, makanan yang aman, dan anak-anak pulang sekolah dengan perut kenyang, bukan pulang sambil memegang kantong muntah.

Peluit babak pertama sudah dibunyikan. Kini bola ada di kaki Mas Dar. Jangan sampai pertandingan ini kembali diwarnai gol bunuh diri. Sebab kalau keracunan masih terus terjadi, dapur masih semrawut, investor SPPG kembali ngamuk, dan pengawasan tetap longgar, maka yang bergizi bukan lagi makanannya, melainkan kritik rakyatnya.

Jamani (Analis/Pegiat Media Sosial)