Langkah tersebut antara lain melalui peningkatan patroli di kawasan rawan kejahatan, pengaktifan kembali sistem keamanan lingkungan (Siskamling), pemasangan kamera pengawas atau CCTV yang terintegrasi, peningkatan penerangan jalan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mempercepat pelaporan masyarakat kepada aparat keamanan.
“Saya juga mengajak seluruh masyarakat Jakarta untuk tidak takut melaporkan tindak kejahatan dan bersama-sama menjaga keamanan lingkungan. Keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian atau pemerintah daerah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ucapnya.
Dailami meyakini, sinergisitas antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan harus didorong melalui mekanisme yang bertanggung jawab dan tetap menghormati hukum.
“Rakyat berhak hidup aman. Negara wajib hadir melindungi. Masyarakat yang membantu penegakan hukum secara bertanggung jawab juga patut mendapatkan penghargaan yang layak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan ruang publik menjadi tempat yang aman bagi masyarakat untuk beraktivitas tanpa dihantui kekhawatiran terhadap aksi begal dan kejahatan jalanan.
“Jangan biarkan begal merasa aman di jalanan. Justru masyarakatlah yang harus merasa aman ketika keluar rumah. Negara harus berpihak kepada korban, bukan memberi ruang bagi pelaku kejahatan,” bebernya.
Dailami menyebut, upaya ini akan sejalan dengan mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang aman dan nyaman. Sebab, aksi begal masih kerap terjadi.di Jakarta. Bahkan, tidak hanya menyebabkan kerugian harta benda, namun juga merenggut korban jiwa.
“Peran masyarakat ini perlu di-trigger dengan tetap mempertahankan aspek keselamatannya. Semoga dengan kekuatan kebersamaan dannkekomoakan warga, aksi begal tidak lagi terjadi di Jakarta,” pungkasnya.
