Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, INDEF: Akan Berdampak Bagi Pasar Keuangan Indonesia

Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) mengemukakan pengunduran diri Perry Warjiyo tidak hanya pergantian pejabat, tapi menguncang kredibilitas institusi bank sentral (institutional shock).

“Dalam konteks pasar keuangan, figur gubernur bank sentral merepresentasikan kredibilitas kebijakan moneter, konsistensi arah suku bunga, serta stabilitas komunikasi ke pasar. Jadi dampaknya akan sangat ditentukan oleh timing, alasan mundur, dan siapa penggantinya,” ujar Ekonom ISEAI, Ronny P Sasmita.

Dampak pengunduran diri Perry Warjiyo adalah nilai tukar rupiah lantaran pasar valuta asing (valas) sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Hal ini terutama jika muncul persepsi independensi Bank Indonesia terganggu atau arah kebijakan moneter berubah.

“Jika pengunduran diri ini tidak diikuti dengan komunikasi yang kuat dan kredibel, maka kita bisa melihat tekanan depresiasi jangka pendek, bukan karena fundamental berubah, tetapi karena risk premium Indonesia naik. Investor global akan meminta kompensasi risiko lebih tinggi, dan itu biasanya tercermin dalam pelemahan rupiah,” ujarnya.

Pasar obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan menjadi instrumen yang paling cepat merespons perubahan sentimen. Investor berpotensi meminta premi risiko yang lebih tinggi sehingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) SBN.

Apalagi pasar meragukan kesinambungan kebijakan moneter yang selama ini relatif kredibel dalam menjaga inflasi dan stabilitas rupiah.

Kenaikan yield ini bisa terjadi bahkan tanpa perubahan BI Rate, karena faktor kepercayaan (confidence) memainkan peran besar di pasar surat utang.”

“Jadi secara keseluruhan, saya melihat ini sebagai “moment of truth” bagi kredibilitas institusi moneter Indonesia. Jika pemerintah dan otoritas terkait mampu memastikan transisi yang mulus, transparan, dan berbasis meritokrasi, maka dampaknya bisa cepat diredam. Tapi jika justru memunculkan persepsi politisasi atau ketidakjelasan arah kebijakan, maka efeknya bisa berlanjut, di mana rupiah akan tertekan, yield naik, dan volatilitas pasar meningkat,” tuturnya. (adm)

Penulis: Mochamad Ade MaulidinEditor: Mochamad Ade Maulidin