Hasto Relevansikan Sumpah Pemuda dengan Sumpah Rakyat Saat Tragedi Kudatuli 1996

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menguraikan pesan penting mengenai kekuatan ide, gagasan, dan imajinasi generasi muda dalam meretas jalan sejarah perjuangan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Hasto saat memberikan sambutan pembuka dalam peluncuran gerakan dan wadah intelektual muda progresif bernama Public Pulse 28 di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).

Hasto menegaskan bahwa pemuda adalah simbol dari “api” yang menggambarkan kekuatan cita-cita, mimpi, dan harapan masa depan.

“Di Sekolah Partai ini, seluruh ide dan gagasan, suatu imajinasi tentang masa depan itu dibuka seluas-luasnya dengan mengambil spirit dari para tokoh pejuang bangsa kita, mulai dari Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, hingga Tan Malaka,” ujar Hasto di hadapan puluhan anak muda yang hadir.

Dalam menyongsong peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda, Hasto merelevansikan ikrar historis tahun 1928 tersebut dengan “Sumpah Rakyat” yang lahir secara organik dari rahim perjuangan melawan otoritarianisme saat tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 silam.

Hasto menjelaskan bahwa gerakan massa rakyat saat Kudatuli berhasil memformulasikan kembali poin-poin ikrar Sumpah Pemuda menjadi sebuah pemantik perlawanan terhadap penindasan hak-hak demokrasi.

“Pada tanggal 27 Juli 1996 ketika terjadi serangan Kudatuli, maka ‘Kami, pemuda Indonesia’ itu direlevansikan menjadi ‘Kami, rakyat Indonesia’. ‘Bertanah air satu, tanah air Indonesia’ direlevansikan menjadi ‘bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan’. ‘Kami, rakyat Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia’ direlevansikan menjadi ‘bangsa yang gandrung terhadap keadilan’. Dan ‘Kami, rakyat Indonesia berbahasa satu’ direlevansikan menjadi ‘bahasa kebenaran’,” beber Hasto.

Hasto juga mengajak hadirin untuk merefleksikan kejeniusan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, W.R. Supratman, yang berpulang pada usia sangat muda, yakni 35 tahun pada 17 Agustus 1938. Kontemplasi mendalam Supratman tentang Indonesia Raya yang utuh dinilai melampaui zamannya karena lahir di tengah cengkeraman kolonialisme.