Yang membuat orang nyaris tersedak kopi, dua nama yang ditetapkan sebagai tersangka bukan pemain figuran. Mereka adalah Ketua PN Depok, I Wayan Eka Mariarta, dan Wakil Ketua PN Depok, Bambang Setyawan. Bersama mereka ikut diamankan seorang juru sita dan pihak swasta, sementara barang bukti berupa uang tunai ratusan juta rupiah disita.
Kalau film superhero punya markas Avengers, rakyat berharap pengadilan menjadi markas para penjaga keadilan. Sayangnya, ketika ada OTT di lingkungan pengadilan, yang terdengar bukan lagi bunyi palu sidang, melainkan suara kepercayaan publik yang retak seperti gelas dilempar dari lantai sepuluh.
KY mengatakan pengawasan harus diperkuat. Mahkamah Agung juga mengusung prinsip zero tolerance terhadap pelanggaran integritas. Kalimat itu terdengar indah. Sangat indah. Seindah tulisan “rumput dilarang diinjak” yang justru berdiri di tengah rumput yang sudah habis diinjak.
Masyarakat tentu berharap slogan tidak berhenti menjadi hiasan dinding. Sebab, hukum bukan sekadar kumpulan pasal. Hukum hidup dari kepercayaan. Begitu kepercayaan roboh, gedung pengadilan semegah apa pun hanya menjadi museum palu kayu.
Yang membuat publik semakin garuk-garuk kepala, hingga akhir Juli 2026 hanya satu kasus OTT hakim yang mencuat ke publik. Namun, di saat bersamaan, rekomendasi sanksi etik mencapai 121 hakim. Angka itu melahirkan pertanyaan liar di warung kopi: apakah yang terlihat hanya puncak gunung es, sementara bongkahan lainnya masih berendam santai di dasar lautan birokrasi?
Tentu tidak ada bukti, semua pelanggaran etik adalah tindak pidana. Etik dan pidana adalah dua ranah berbeda. Tetapi, ketika jumlah pelanggaran mencapai ratusan, publik otomatis menyalakan mode curiga tingkat dewa. Bukan karena suka berprasangka, melainkan karena terlalu sering dikejutkan oleh kenyataan yang lebih absurd daripada skenario film.
Semoga 121 sanksi ini benar-benar menjadi alarm, bukan sekadar bunyi notifikasi langsung di-swipe. Sebab, jika benteng terakhir hukum terus keropos, rakyat akhirnya akan mencari keadilan dengan satu-satunya alat yang masih gratis: doa, harapan, dan tentu saja… humor. Karena kadang, di negeri yang penuh ironi, tertawa adalah cara terakhir agar tidak ikut menangis.
Jamani











