Luluk menilai persoalan krisis kesehatan di Gaza belum mendapatkan perhatian publik internasional yang sebanding dengan tingkat kedaruratannya. Karena itu, ia mendorong agar seruan untuk membuka blokade Gaza menjadi agenda kemanusiaan yang lebih kuat di tingkat internasional.
“Isu ini tidak banyak diketahui publik secara utuh. Karena itu, seruan untuk membuka blokade harus menjadi perhatian komunitas internasional. Bantuan kemanusiaan, terutama obat-obatan dan kebutuhan medis, harus bisa masuk,” tegasnya.
Luluk mendorong pemerintah Indonesia menggunakan berbagai saluran diplomasi yang tersedia, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk mendesak dibukanya akses kemanusiaan ke Gaza.
“Pemerintah perlu mengambil aksi kemanusiaan yang lebih konkret, khususnya menyangkut persoalan kesehatan. Kita mendukung dan mendorong pemerintah untuk menggunakan seluruh saluran yang tersedia agar blokade dibuka dan bantuan kemanusiaan dapat segera masuk,” kata Luluk.
Ia menegaskan bahwa akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan merupakan kebutuhan mendesak yang tidak boleh terhambat oleh konflik maupun blokade.
“Ketika obat-obatan tidak bisa masuk dan rumah sakit tidak bisa berfungsi, yang menjadi korban adalah masyarakat sipil, termasuk anak-anak. Karena itu, membuka akses kemanusiaan ke Gaza harus menjadi kepentingan bersama komunitas internasional,” pungkasnya.











