Daerah  

Kang Ai Ubah Desa Jadi Destinasi Wisata Goa Nyalindung

Kang Ai di depan Goa Nyalindung, Pangandaran, Jawa Barat. Foto: Pikiran Rakyat

Inilah bagian yang penting dari kisah Kang Ai. Ia tidak memosisikan wisata hanya sebagai tempat orang luar datang dan mengambil foto. Wisata diharapkan menjadi salah satu mesin ekonomi masyarakat setempat.

Menurut Kang Ai, penghargaan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah gagasan dan dampaknya.

Dalam pertemuannya dengan mahasiswa IPB pada 17 Juli 2026, ia mengatakan bahwa ide besar biasanya lahir dari kegelisahan terhadap persoalan yang berada di sekitar seseorang.

Pesannya sederhana: jangan buru-buru mengejar penghargaan. Kerjakan sesuatu terlebih dahulu.

Ia bahkan mengingatkan mahasiswa untuk lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat desa. Menurutnya, dari interaksi tersebut seseorang dapat menemukan dua hal sekaligus: persoalan dan potensi.

Keduanya sering berada di tempat yang sama.

Sebuah desa yang dianggap tertinggal, misalnya, mungkin mempunyai masalah akses pendidikan. Tetapi desa yang sama mungkin memiliki hutan, gua, tradisi, kuliner, kerajinan, cerita rakyat dan lanskap yang tidak dimiliki kota.

Yang dibutuhkan adalah orang yang mampu menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan masyarakat.

Ini bukan cerita tentang seorang pemuda yang tiba-tiba menjadi sukses. Ini cerita tentang proses mengubah cara melihat kampung halaman.

Ada satu pelajaran yang lebih besar di baliknya.

Sering kali pembangunan dimulai dari pertanyaan besar: apa yang harus dibangun?

Kang Ai justru memulai dari pertanyaan yang lebih kecil: apa yang sudah ada di sini?

Dari pertanyaan itulah muncul gagasan tentang pendidikan, pemberdayaan, lingkungan dan wisata.

Dan pada akhirnya, desa tidak perlu berubah menjadi kota agar dianggap maju.

Desa bisa tetap menjadi desa—tetapi dengan masyarakat yang lebih berdaya. (*)