Seorang prajurit sering disebut gugur demi negara. Kalimat itu terdengar gagah di podium, tetapi bagi keluarga, kata “gugur” mungkin hanya nama lain dari kehilangan yang tidak pernah selesai.
Sebelum ditugaskan di Jila, Yonif 133/YS pernah bertugas di Papua Barat Daya pada 2024, menjalankan pembinaan teritorial dan membantu masyarakat. Namun tragedi pada HUT ke-81 RI menunjukkan konflik belum selesai.
Sehari sebelumnya, 16 Agustus, seorang warga sipil berinisial AS ditembak kelompok OPM pimpinan Botak Wanimbo di Kompleks Pertamina Lama, Distrik Wenam, Kabupaten Tolikara. Ia mengalami luka tembak di betis kiri dan berhasil dievakuasi personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 511/DY.
Pada 17 Agustus, kontak tembak juga terjadi di sekitar Polsek Kimbim, Distrik Asologaima, Kabupaten Jayawijaya. Rekaman yang beredar memperlihatkan petugas berlindung ketika suara tembakan terdengar.
So, pada hari ketika Indonesia menghitung usia kemerdekaannya, Papua masih menghitung korban. Sampai kapan? Sampai berapa lagi ibu harus menunggu anaknya pulang, lalu yang datang justru peti? Sampai berapa lagi seorang istri memeluk seragam, bukan suaminya? Sampai berapa lagi nama manusia berubah menjadi angka dalam laporan keamanan? Sampai kapan anak bangsa saling menumpahkan darah di tanah yang sama?
Mungkin kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa benar dan siapa salah. Terlalu sibuk bertanya siapa menang. Padahal keluarga yang kehilangan tidak mendapatkan kemenangan apa pun.
Pratu Rizki sudah pergi. Semoga kematiannya tidak berhenti sebagai berita tenggelam setelah beberapa hari. Sebab di balik satu nama ada seorang anak kehilangan ayah, seorang istri kehilangan suami, orang tua kehilangan anak, dan sebuah rumah yang mendadak menjadi terlalu sunyi.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Al-Fatihah untuk Pratu Rizki Kurniawan.
Semoga Tuhan mengampuni segala salahnya, menerima amalnya, dan memberi kekuatan kepada keluarganya. Semoga suatu hari nanti, ketika Merah Putih berkibar di Papua, tidak ada lagi ibu menangis di bawahnya. Sebab tanah ibu pertiwi sudah terlalu lama meminum darah anak-anaknya sendiri.
Penulis: Rosadi Jamani











