“Nah ini sebuah pertumbuhan yang luar biasa kalau itu bisa kita lakukan. Karena kalau kita lihat Amerika punya stok emas 8.133 ton, kemudian China 2.331. Kalau Indonesia 1.800, itu udah langsung di bawah mereka semua,” ucap Airlangga.
Karena itu, Airlangga meminta Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian mencari cara agar masyarakat bersedia menitipkan emas mereka melalui instrumen keuangan.
Saat ini, Pegadaian disebut telah mengelola sekitar 153 ton stok emas masyarakat. Sementara itu, BSI mengelola sekitar 20 ton.
“Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang US$ 252 billion ini mungkin 20% nya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal, ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan syariah maupun Pegadaian,” tutur Airlangga.
Pemerintah berharap sebagian emas masyarakat tersebut dapat masuk ke sistem keuangan sehingga potensinya bisa mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.[dit]











