FAKTANASIONAL.NET – Sebuah foto di Istana Merdeka ternyata dapat memunculkan perdebatan mengenai independensi media digital.
Hal itu dialami Pancatera, rumah produksi di balik podcast In Her View. Para host podcast tersebut hadir dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, 17 Agustus 2026. Mereka kemudian mengunggah foto kehadiran mereka, termasuk foto bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo, putera tunggal Presiden Prabowo Subianto.
Alih-alih hanya mendapat ucapan selamat, unggahan tersebut justru memunculkan kritik dari sebagian audiens.
Masalahnya bukan semata-mata karena mereka hadir di Istana.
Kritik terutama berkaitan dengan persepsi independensi.
In Her View selama ini dikenal sebagai ruang percakapan mengenai perempuan, kehidupan sosial, dan berbagai persoalan masyarakat.
Karena memiliki karakter sebagai ruang diskusi, sebagian audiens merasa bahwa kedekatan visual dengan pemerintah dapat menimbulkan persepsi berbeda.
Pertanyaan yang muncul kira-kira sederhana: apakah kehadiran dalam acara pemerintah dapat membuat media atau platform diskusi kehilangan jarak kritis?
Pertanyaan tersebut penting di era media digital.
Pada masa lalu, masyarakat dapat membedakan media massa dengan lembaga pemerintah secara lebih jelas. Sekarang batasnya jauh lebih cair. Podcast, kanal YouTube, Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya dapat berfungsi sebagai media sekaligus ruang komunitas.
Karena itu, independensi bukan hanya persoalan apakah sebuah media menerima uang pemerintah atau tidak. Independensi juga berkaitan dengan persepsi publik terhadap posisi media tersebut.
Pancatera kemudian memberikan klarifikasi dan meminta maaf kepada komunitas pendengarnya. Mereka menegaskan bahwa Pancatera dan In Her View tetap beroperasi secara independen dan didanai secara mandiri, tanpa afiliasi dengan pemerintah ataupun lembaga politik.
Pernyataan tersebut penting. Namun, kritik publik juga penting.
Sebab dalam dunia media, independensi bukan hanya sesuatu yang harus dimiliki, tetapi juga sesuatu yang harus terlihat.
Seorang jurnalis atau pengelola media dapat merasa dirinya tetap independen. Namun publik mempunyai hak untuk bertanya apakah tindakan tertentu berpotensi memengaruhi persepsi terhadap independensi tersebut.
Misalnya, seorang pengelola media menghadiri acara pemerintah sebagai undangan. Kehadiran itu sendiri belum tentu bermasalah. Banyak media dan tokoh masyarakat memang menghadiri acara kenegaraan.
Persoalan baru muncul ketika publik menafsirkan kehadiran tersebut sebagai bentuk kedekatan politik.
Karena itu, respons Pancatera yang menerima kritik dan melakukan evaluasi justru dapat menjadi contoh komunikasi yang sehat.







