Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan bahwa Sungai Barito memang mengalami penyusutan debit air akibat musim kemarau. Penurunan muka air juga membuat sejumlah bagian sungai memperlihatkan gosong atau hamparan pasir.
Menurut Sandi, dokumentasi yang beredar di media sosial diambil dari atas Jembatan Kalahien. Sudut pengambilan gambar tersebut membuat hamparan pasir terlihat luas sehingga memberi kesan badan Sungai Barito mengering.
“Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai,” kata Sandi, dikutip dari detikFinance.
Kementerian PU melalui BWS Kalimantan III terus memantau muka air dan alur Sungai Barito selama musim kemarau. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap aktivitas masyarakat serta transportasi sungai.
Kementerian PU juga mengimbau masyarakat melihat kondisi Sungai Barito secara utuh dan tidak hanya mengandalkan dokumentasi dari satu sudut pengambilan gambar.[dit]











