Demo 27 Agustus: Bara di Media Sosial, Asapnya ke Mana?

DPR Janji RUU Perampasan Aset Rampung 15 Desember 2026, Pimpinan Siap Mundur Jika Gagal/(YouTube)

Ukuran paling penting tetap berada pada kenyataan: berapa banyak orang yang benar-benar hadir, apa tuntutannya, bagaimana respons pemerintah, dan apakah aspirasi tersebut menghasilkan perubahan.

Di sisi lain, demonstrasi yang berlangsung relatif terkendali tidak otomatis berarti gerakan tersebut gagal.

Justru dalam negara demokrasi, kemampuan menyampaikan kritik tanpa kekerasan merupakan sesuatu yang patut dihargai.

Polisi sebelumnya menyatakan telah mengamankan puluhan orang yang diduga hendak menunggangi aksi. Aparat juga menyita sejumlah barang yang disebut berkaitan dengan potensi kekerasan.

Langkah semacam ini menunjukkan bahwa pemerintah dan aparat memang memiliki alasan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Tetapi kewaspadaan juga harus memiliki batas.

Jangan sampai setiap demonstran dipandang sebagai calon pembuat kerusuhan. Sebaliknya, jangan pula setiap orang yang membawa narasi perlawanan dianggap otomatis sebagai pahlawan demokrasi.

Demokrasi membutuhkan keduanya: ruang kritik dan batas terhadap kekerasan.

Yang menarik dari 27 Agustus justru bukan sekadar apakah demo itu besar atau kecil. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa ekspektasi publik sebelumnya terasa jauh lebih panas dibandingkan kenyataan di lapangan?

Mungkin kita terlalu mudah mengukur suhu politik berdasarkan suhu kolom komentar.

Padahal, komentar bisa membara tanpa perlu menyalakan api.

Dan mungkin inilah pelajaran paling sederhana dari 27 Agustus, jangan buru-buru percaya bahwa sebuah negara sedang terbakar hanya karena linimasa kita penuh asap.

Kadang-kadang, yang terbakar memang hanya kuota internet.[dit]

Exit mobile version