Fakta Nasional

Pembantu Bunuh Majikan Perempuan di Batam: Brutal Wanita Muda

FAKTANASIONAL.NET - Perempuan bisa begini: Asisten rumah tangga inisial NH, 24, meninju majikan perempuan L, 52, di rumah kompleks Wira Mustika, Batam. L sempoyongan, NH meraih pot bunga menghantamkannya. Saat L roboh, ditikam pisau dapur sampai tew…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 01 September 2026 📖 5 menit
Pembantu Bunuh Majikan Perempuan di Batam: Brutal Wanita Muda
Ilustrasi Harian Disway

FAKTANASIONAL.NET - Perempuan bisa begini: Asisten rumah tangga inisial NH, 24, meninju majikan perempuan L, 52, di rumah kompleks Wira Mustika, Batam. L sempoyongan, NH meraih pot bunga menghantamkannya. Saat L roboh, ditikam pisau dapur sampai tewas. Sudah tewas, pun kepalanyi ditendang. —--------------

PERISTIWA itu mencengangkan masyarakat. Bukan saja heran atas kebrutalan perempuan, tapi juga sebagai bahan pelajaran bagi ibu-ibu rumah tangga yang punya pembantu perempuan, mengapa bisa terjadi begitu?

Pembantu Bunuh Majikan di Batam di Halaman 10

Dalam konferensi pers di Mapolresta Barelang, Senin, 31 Agustus 2026, Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono menjelaskan, kejadian rumah korban di Kompleks Wira Mustika Blok D No 56, Kelurahan Sungai Jodoh, Kecamatan Batu Ampar, Batam, Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB.

Lokasi persisnya di rooftop, lantai empat, rumah tersebut. Ketika itu di situ sepi. Hanya ada pelaku dan korban. Penghuni rumah lainnya, suami korban masih tidur. Seorang pembantu wanita lainnya bernama Yanti, 25, sedang bekerja di lantai satu.

NH baru bekerja di situ sejak Kamis, 20 Agustus 2026, atau baru sepuluh hari. Beberapa saat sebelum kejadian, NH diperintah L membersihkan toren penampung air di rooftop. NH mengerjakan, L mengawasi.

Adik Bunuh Kakak Tanpa Sebab

Saat itulah terjadi pembunuhan seperti terdeskripsikan di atas.

Anggoro: “Setelah pembunuhan, pelaku kabur meninggalkan rumah tersebut. Orang pertama menemukan korban adalah Yanti, ART satu lagi di rumah tersebut. Lalu dia lapor ke majikan laki laki.”

Kemudian majikan laki laki mengangkat tubuh korban ke lantai bawah. Namun ia berhenti di lantai dua. Mungkin, karena tenaga tidak kuat, atau tidak kuat melihat darah korban mengucur deras dari berbagai bagian tubuh (hasil visum tikaman pisau di delapan titik).

Saat itulah majikan laki laki menelepon, lapor polisi. Tim polisi tiba di TKP, NH sudah tidak di situ. Polisi diberi info, bahwa NH punya kerabat yang tinggal di kawasan Botania, Batam.

Tim polisi pun mengejar ke lokasi tersebut. NH berada di sana, ditangkap polisi, ditanya-tanya, NH langsung mengakui membunuh majikannyi, L. Dia dibawa ke mapolresta untuk penyidikan lebih lanjut.

Anggoro: “Berdasarkan pengakuan tersangka, motifnya dendam karena dia sering dimarahi dengan kata-kata: pemalas, juga kata-kata: bodoh. Pelaku dendam. Akhirnya dia membunuh korban.”

Polisi menjeratnya bukan dengan pasal pembunuhan berencana, melainkan Pasal 458 KUHP, pembunuhan biasa. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Umumnya, serangan brutal seperti itu hanya mampu dilakukan laki laki. Jarang ada perempuan bisa brutal begitu. Mungkin, dendam dan ledakan kemarahan pelaku begitu dahsyat. Sehingga korban sudah tergeletak dengan delapan tikaman pisau, pun diakhiri dengan beberapa kali tendangan ke kepala di lantai.

Dikutip dari buku Female Aggression (Wiley, 2014) karya Helen Gavin dan Theresa Porter, diungkapkan tentang agresivitas perempuan dalam hal tindak kekerasan.

Buku ini di Amazon meraih penilaian publik bintang lima.

Female Aggresion in Amazon

Helen Gavin adalah Direktur Pendidikan Pascasarjana di Universitas Huddersfield, Inggris, tempat ia juga mengajar psikologi forensik dan kriminal. Sebelumnya, ia menjabat Kepala Departemen Psikologi di Universitas West of England, Inggris.

Theresa Porter, psikolog forensik yang kini berpraktik di Connecticut, AS. Dia bekerja untuk Biro Penjara Federal selama hampir satu dekade di mana dia punya pengalaman luas dengan pelaku kejahatan perempuan. Dia juga dosen dan menerbitkan karya tentang kekerasan yang dilakukan perempuan.

Buku Female Aggression memaparkan, bahwa perempuan juga manusia yang bisa bertindak brutal menyerang orang lain. Selama ini anggapan umum bahwa cuma laki laki yang bisa begitu. Dan, anggapan itu keliru.

Penulis membahas agresi oleh perempuan dari perspektif psikologi, kriminologi, perilaku kekerasan, pembunuhan berantai, sampai evolusi agresi berdasarkan gender.

Buku itu berangkat dari pertanyaan yang cukup penting: mengapa perempuan sering dianggap sebagai makhluk yang secara alamiah kurang agresif dibandingkan laki-laki?

Menurut penulis, perempuan memang secara statistik melakukan kekerasan fisik berat lebih jarang daripada laki-laki. Tetapi bukan berarti kapasitas agresinya tidak ada. Agresi perempuan mempunyai bentuk, pemicu, dan konteks tersendiri.

Salah satu gagasan penting buku ini adalah bahwa agresi tidak harus dipahami sebagai sifat kepribadian yang selalu terlihat sejak awal.

Seseorang dapat menjalani kehidupan yang relatif biasa, tetapi dalam situasi tertentu mengalami kombinasi tekanan, kemarahan, rasa dipermalukan, konflik interpersonal, frustrasi, dan hilangnya kendali diri.

Ketika mekanisme pengendalian emosi diri pelaku runtuh, agresi dapat meningkat secara drastis.

Female Aggression menjelaskan perbedaan antara kemarahan dan agresi. Kemarahan, merupakan keadaan emosional. Sedangkan, agresi adalah perilaku yang diarahkan untuk menyakiti, mengintimidasi, atau menyerang orang lain. Dalam kondisi tertentu, kemarahan yang sangat tinggi dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan konsekuensi tindakannya.

Ada konsep tentang disinhibition, yakni berkurangnya rem psikologis yang biasanya mencegah seseorang melakukan tindakan ekstrem. Dalam keadaan emosi yang sangat tinggi, perhatian seseorang dapat menyempit pada objek kemarahan: “orang yang membuat saya sakit”.

Sementara, konsekuensi hukum dan moral sebagai akibatnya kemudian, menjadi kurang diperhatikan pelaku.

Gavin dan Porter menolak pandangan bahwa agresi perempuan harus selalu dicari penjelasannya sebagai “perempuan yang sebenarnya korban”. Perempuan mempunyai agency —kemampuan untuk bertindak dan mengambil keputusan— termasuk dalam melakukan kekerasan.

Penelitian tentang perempuan pelaku pembunuhan juga menunjukkan bahwa latar belakang psikososial mereka kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi satu penyebab.

Intinya, brutalitas perempuan bukan sesuatu yang secara psikologis mustahil atau bertentangan dengan sifat perempuan. Perempuan memiliki kapasitas agresi seperti manusia lainnya. Yang berbeda adalah frekuensi, bentuk, dan konteksnya.

Dalam kasus tertentu, akumulasi konflik interpersonal, penghinaan yang dirasakan, kemarahan, faktor kepribadian, kemampuan mengendalikan impuls, serta situasi saat kejadian dapat bertemu dan menghasilkan ledakan kekerasan yang sangat ekstrem.

Gavin dan Porter melihat perempuan pelaku kekerasan sebagai manusia yang memiliki kapasitas agresi, bukan sebagai “makhluk yang secara alamiah tidak mungkin brutal.”

Jika teori Gavin dan Porter dijadikan pisau analisis kasus pembunuhan di Batam, perlakuan majikan yang berulang-ulang menyebutnya “pemalas” dan “bodoh” menjadi stressor interpersonal buat pelaku.

Namun, pastinya, penghinaan atau teguran tersebut tidak dengan sendirinya menyebabkan pembunuhan. Sebagian besar orang yang dimarahi atau dihina tidak kemudian melakukan kekerasan. Apalagi membunuh.

Jadi, sangat mungkin ada faktor individual lain pada diri A yang belum diketahui, atau belum diungkap polisi

Di kasus itu pelaku bukan hanya melakukan satu tindakan kekerasan. Dia meninju, menghantam menggunakan benda keras, kemudian melakukan penusukan berkali-kali, dan masih menendang kepala korban setelah korban tidak bergerak di lantai.

Kasus Dugaan Penganiayaan ART, Nur Eks Asisten Erin Diperiksa Polisi

Rangkaian itu menunjukkan eskalasi agresi dan kemarahan yang sangat tinggi. Meskipun dari fakta singkat itu saja kita dilarang menyimpulkan diagnosis psikologis tertentu terhadapnyi. Sebab, kondisi mental pelaku belum dievaluasi.

Bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu yang punya pembantu, sebaiknya jangan terlalu khawatir atas perilaku pembantu yang bisa berpotensi brutal.

Jika pembantu Anda malas atau bodoh atau keduanya, bisa saja dia dikembalikan ke yayasan penyalurnya jika itu didapatkan dari perusahaan jasa penyalur. Jika tidak direkrut dari penyalur melainkan dari cara lain, ya… dipecat saja. Selesai. Daripada bikin perkara.

Ini bukan berarti majikan di Batam itu tidak berpikir sederhana seperti di atas. Tidak begitu. Mungkin, korban berusaha memberi semangat kerja buat pelaku. Namun caranya ditanggapi berbeda oleh pelaku. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK