Mereka hidup dari air.
Petani hidup dari tanah.
Wisatawan datang karena lanskap.
Warga menggantungkan kehidupan pada lingkungan yang selama ini mereka kenal.
Gunung mungkin menghasilkan energi, tetapi manusia membutuhkan ekosistem untuk menghasilkan kehidupan.
Karena itu, Amdal jangan diperlakukan seperti tiket masuk proyek.
Amdal harus benar-benar menjadi ruang untuk menguji: proyek ini aman atau tidak, risikonya apa, manfaatnya untuk siapa, dampaknya kepada siapa, dan apa yang dilakukan jika prediksi ternyata meleset.
Jangan sampai prosesnya begini:
“Sudah dikaji?”
“Sudah.”
“Aman?”
“Aman.”
“Data?”
“Nanti.”
Kalau begitu, Gunung Ungaran bisa saja mengajukan satu permintaan sederhana:
“Kalau mau mengebor saya, jangan lupa bawa data.”
Dan sebenarnya itu bukan permintaan yang berlebihan.
Pemerintah juga telah menegaskan bahwa pengembangan panas bumi Ungaran masih harus melalui berbagai tahapan perizinan dan kajian. Penetapan wilayah kerja panas bumi tidak otomatis berarti pengeboran dapat langsung dilakukan.
Ini penting.
Karena proyek energi bukan sekadar soal mengejar target listrik. Ia juga menyangkut ruang hidup manusia.
Kita boleh optimistis terhadap panas bumi.
Kita boleh mendukung transisi energi.
Kita boleh berharap 55 MW benar-benar membantu sistem kelistrikan.
Tetapi kita juga boleh cerewet.
Bahkan harus cerewet.
Sebab dalam urusan alam, cerewet sebelum proyek berjalan jauh lebih murah daripada menyesal setelah kerusakan terjadi.
Indonesia sudah terlalu akrab dengan pembangunan yang sering datang membawa kata-kata indah: investasi, pertumbuhan, lapangan kerja, energi, kemajuan.
Semua terdengar menyenangkan.
Sampai suatu hari masyarakat bertanya:
“Terus, air kami bagaimana?”
Di situlah keberhasilan sebuah proyek diuji.
Bukan hanya dari berapa megawatt listrik yang masuk jaringan.
Tetapi dari apakah mata air masih mengalir, sawah masih produktif, hutan tetap berdiri, ekosistem terjaga, kawasan budaya terlindungi, dan masyarakat tetap merasa aman.
Jadi, kalau suatu hari mata bor benar-benar turun hingga lebih dari dua kilometer ke dalam bumi Ungaran, semoga yang turun bukan hanya alat pengebor.
Semoga standar kehati-hatian juga ikut turun.
Kalau bisa sampai dasar.
Dan Gunung Ungaran tidak perlu tantrum.
Tidak perlu marah.
Tidak perlu batuk.
Tidak perlu mengirim surat keberatan melalui kawah.
Cukup manusia yang belajar mendengarkan.
Dengarkan ilmuwan.
Dengarkan data.
Dengarkan masyarakat.
Dengarkan alam.
Sebab sebelum manusia mengebor bumi sedalam 2.200 meter, ada satu hal yang seharusnya dibor lebih dulu:
keseriusan kita dalam memahami apa yang sedang kita sentuh.
Jangan sampai gunungnya yang dibor, tetapi akal sehatnya justru yang bolong.[dit]











