Selat Hormuz membuktikan bahwa geografi dapat berubah menjadi kekuatan ketika sebuah negara memahami nilai strategis wilayahnya. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor energi paling penting dunia, sehingga setiap eskalasi serius di sekitarnya dapat memengaruhi harga minyak, pelayaran, rantai pasok, dan perekonomian global.
Karena itu, posisi Iran tidak dapat dihitung hanya dari ukuran ekonominya. Iran berada di titik geografis yang membuat kepentingan energi dunia bersinggungan langsung dengan kepentingan nasionalnya. Pada 2026, ketegangan Iran-Amerika bahkan kembali memperlihatkan betapa cepat persoalan di kawasan tersebut merambat ke pasar energi dunia.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal geopolitik yang sangat besar. Indonesia berada di antara dua samudra, memiliki sejumlah selat strategis, pasar domestik raksasa, sumber daya alam, serta posisi penting dalam Indo-Pasifik. Tetapi semua modal tersebut baru menjadi kekuatan apabila dikelola oleh negara yang mempunyai visi dan kapasitas.
Kekayaan yang hanya diekspor sebagai bahan mentah bukan kekuatan. Jalur perdagangan yang tidak ditopang kemampuan maritim bukan kekuatan. Populasi besar tanpa penguasaan teknologi bukan kekuatan. Karena itu, pelajaran Hormuz bagi Indonesia sangat sederhana: geografi menjadi daya tawar ketika negara mampu mengubahnya menjadi kapasitas strategis.
“Indonesia sesungguhnya memiliki kartu geopolitik yang sangat besar. Persoalannya bukan apakah kita memiliki modal, tetapi apakah kita cukup kuat mengubah modal tersebut menjadi daya tawar. Indonesia bukan bangsa kecil. Indonesia hanya perlu berhenti berpikir seperti bangsa yang kecil,” tegas Haidar Alwi.
Dari Iran kita belajar tentang keberanian mempertahankan ruang strategis. Dari geografi Iran kita belajar bahwa posisi dapat menjadi kekuatan. Tetapi kekuatan strategis tidak mungkin bertahan tanpa fondasi ekonomi dan industri. Di sinilah Tiongkok memberikan pelajaran berikutnya.
Tiongkok: Luka Sejarah Diubah Menjadi Kekuatan.
Tiongkok mengingat Century of Humiliation, termasuk Perang Opium dan penetrasi kekuatan asing, sebagai pengalaman sejarah ketika kelemahan nasional membuat negaranya kehilangan ruang menentukan nasib sendiri. Pelajaran yang kemudian dibangun adalah sederhana: jangan kembali menjadi lemah.
Setelah reformasi 1978, Tiongkok membangun ekonomi, industri, infrastruktur, pendidikan, teknologi, dan kapasitas negara dalam skala luar biasa besar. Bank Dunia mencatat hampir 800 juta orang telah keluar dari kemiskinan ekstrem dalam beberapa dekade, sementara sejak 1978 ekonomi Tiongkok tumbuh rata-rata lebih dari 9 persen per tahun. Angka tersebut memperlihatkan satu hal: kedaulatan strategis membutuhkan kekuatan material.
“Tiongkok menunjukkan bahwa sejarah tidak cukup dikenang. Luka sejarah dapat diubah menjadi tenaga untuk membangun ekonomi, industri, teknologi dan kekuatan nasional. Indonesia juga mempunyai sejarah panjang kolonialisme. Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang pernah menjajah kita, tetapi apakah kita telah membangun kekuatan sehingga tidak mudah didikte siapa pun,” tutur Haidar Alwi.
Iran menunjukkan keberanian menghadapi tekanan geopolitik. Tiongkok menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi dan kapasitas negara dibangun dalam jangka panjang. Dua pengalaman itu membawa kita pada persoalan Indonesia sendiri: jangan sampai bangsa dengan sumber daya dan posisi strategis sebesar ini hanya menjadi pasar, pemasok bahan mentah, konsumen teknologi, atau objek perebutan pengaruh.
Indonesia: Jangan Menjadi Satelit Kekuatan Mana Pun.
Indonesia tidak perlu mencari musuh baru. Indonesia perlu membangun kekuatan baru. Amerika boleh menjadi mitra, Tiongkok boleh menjadi mitra, Iran boleh menjadi mitra, Rusia, India, Eropa dan negara lainnya juga dapat menjadi mitra.
Tetapi tidak satu pun boleh menjadi penentu tunggal arah Indonesia. Inilah makna politik luar negeri bebas aktif jika diterjemahkan ke dalam geopolitik abad ke-21: bebas bukan berarti pasif, dan aktif bukan berarti menjadi pengikut salah satu blok. Indonesia dapat bekerja sama dengan semua pihak dari posisi yang semakin setara, karena kepentingan nasional tidak boleh ditukar dengan ketergantungan.
Negara yang mudah dipengaruhi dari luar biasanya bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi karena ada celah internal. Korupsi, lemahnya industri strategis, ketergantungan teknologi, ketergantungan pembiayaan, ketahanan energi dan pangan yang tidak kuat, serta kualitas institusi negara semuanya dapat mempersempit ruang kedaulatan.
Karena itu, membangun pemerintahan yang bersih, industri nasional yang kuat, teknologi domestik, pertahanan yang tangguh, pendidikan berkualitas, dan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bukan sekadar agenda pembangunan. Itu adalah agenda pertahanan kedaulatan.
“Indonesia tidak perlu menjadi anti-Amerika, anti-Tiongkok, atau anti-negara mana pun. Yang perlu kita bangun adalah Indonesia yang tidak mudah dipaksa oleh siapa pun. Ketika kita kuat, kita dapat bersahabat dengan dunia tanpa kehilangan kepentingan nasional kita,” kata Haidar Alwi.
Itulah inti new mind yang diperlukan Indonesia. Kita belajar dari Iran tanpa menjadi Iran. Kita belajar dari Tiongkok tanpa menjadi Tiongkok. Kita mengambil keberanian, disiplin strategis, pembangunan kekuatan, dan kesadaran kedaulatan mereka, lalu mengolahnya sesuai Pancasila, konstitusi, dan karakter Indonesia. Sebab tujuan akhirnya bukan mencari patron baru, melainkan mengakhiri mentalitas membutuhkan patron.
Indonesia tidak boleh menunggu dunia berubah terlebih dahulu. Indonesia perlu mengubah kapasitas dirinya sendiri. Ketika negara memiliki ekonomi kuat, teknologi kuat, pertahanan kuat, industri kuat, diplomasi kuat, sumber daya manusia kuat, dan institusi yang bersih, maka tekanan eksternal tidak mudah berubah menjadi kendali internal. Irak dan Libya mengajarkan betapa mahalnya ketika sebuah negara kehilangan kendali atas perjalanan sejarahnya sendiri.
Iran memperlihatkan arti mempertahankan ruang strategis di tengah tekanan Amerika. Tiongkok memperlihatkan bagaimana pengalaman penghinaan dapat diubah menjadi pembangunan kekuatan. Indonesia memiliki sejarah, sumber daya, penduduk, geografi, dan pasar yang memungkinkan kita mengambil pelajaran dari semuanya.
“Pada akhirnya pilihan Indonesia sederhana: menjadi bangsa yang menentukan arah sejarahnya sendiri atau menjadi bangsa yang arah sejarahnya ditentukan oleh kekuatan lain. Kita tidak sedang membangun Indonesia untuk memusuhi dunia. Kita sedang membangun Indonesia agar dunia menghormati kita.”
“Ketika Indonesia kuat, kita dapat bekerja sama dengan siapa pun tanpa tunduk kepada siapa pun. Ketika Indonesia berdaulat, persahabatan menjadi pilihan, bukan kebutuhan karena ketergantungan. Itulah wajah Indonesia yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Haidar Alwi.











