Di sinilah ironi itu berubah menjadi bahan tertawaan sejarah. Arab Saudi bisa membeli senjata paling mahal, tetapi Houthi yang dianggap kecil justru mampu membuat kerajaan kaya raya itu sibuk mencari cara untuk membendung mereka.
Muncul laporan, Saudi dikabarkan meminta bantuan Israel. Kalau benar, kerajaan dengan kekuatan finansial raksasa, tentara modern, persenjataan canggih, dan dukungan Amerika, akhirnya harus mencari tambahan tenaga untuk menghadapi kelompok secara ekonomi dan militer jauh lebih kecil.
Sementara itu, Mohammed bin Salman atau MBS dilaporkan menelepon Donald Trump dua kali pada 11 September 2026, meminta serangan udara langsung AS terhadap posisi Houthi. Trump menolak karena fokus Washington masih tertuju pada Iran dan Selat Hormuz.
Amerika hanya menawarkan dukungan tidak langsung berupa intelijen, data targeting, serta sekitar 200 personel militer AS di Saudi untuk bantuan non-kinetic. Komandan CENTCOM Admiral Brad Cooper juga bertemu pejabat Saudi.
So, kalau perang adalah laga sepak bola, Saudi datang membawa stadion, sepatu emas, teknologi VAR, bus mewah, dan pemain bergaji fantastis. Houthi datang membawa sandal, tekad, dan entah dari mana tiba-tiba mencetak gol.
Filosofinya sederhana. Senjata mahal bisa menghancurkan banyak benda, tetapi belum tentu menghancurkan kemauan bertahan.
Houthi mungkin miskin, kecil, dan tertinggal. Tetapi mereka membuktikan satu hal sering dilupakan negara kaya, perang bukan sekadar siapa punya senjata paling mahal. Kadang-kadang, yang paling merepotkan justru tentara kampung yang tidak punya cukup uang untuk membeli rasa takut.
“Bang, mereka itu bertetangga, satu keyakinan, kiblat sama, kitab sucinya pun sama. Kenapa mereka suka sekali berperang.”
“Mungkin DNA nya suka perang kali, wak. Untung saja, kita dengan jiran hidup damai dan tenteram.”
Penulis: Rosadi Jamani
