Tuan Putri yang Terganggu dengan Berita Kesengsaraan Masyarakat

Tuan Putri yang Terganggu dengan Berita Kesengsaraan Masyarakat /Instagram

KITA kadang menyadari ada nasihat yang terdengar bijak ketika kehidupan sedang baik-baik saja, tetapi berubah makna ketika didengar oleh mereka yang sedang berada di tengah masalah.

Kontroversi Maudy Ayunda soal mindfulness in the age of bad news sebenarnya bukan sekadar perkara seorang figur publik membuat konten kesehatan mental lalu dikritik warganet.

Persoalannya jauh lebih dalam: tentang jarak sosial, pengalaman hidup, dan siapa yang memiliki kesempatan untuk berkata, “Saya ingin berhenti melihat berita buruk.”

Video tersebut diunggah pada 21 Agustus 2026. Maudy bercerita bahwa derasnya kabar buruk dari dalam maupun luar negeri membuat dirinya kewalahan secara emosional.

Ia kemudian membahas pentingnya mengatur konsumsi informasi, memilih sumber berita yang dipercaya, membaca secara lebih utuh, serta mengetahui kapan seseorang perlu berhenti mengonsumsi kabar negatif.

Secara prinsip, gagasan itu tidak otomatis keliru.

Manusia memang tidak dirancang untuk terus-menerus menerima banjir informasi.

Berita tentang perang, PHK, bencana, konflik, kenaikan harga, persoalan politik, hingga berbagai tragedi yang muncul tanpa henti di layar ponsel dapat membuat seseorang lelah secara mental.

Masalahnya muncul ketika nasihat tersebut berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk mengambil jarak.

Bagi seseorang yang tinggal jauh dari pusat masalah, kabar tentang bencana mungkin hanya muncul sebagai notifikasi. Setelah dibaca, layar dapat ditutup.

Tetapi bagi orang yang rumahnya terdampak banjir, keluarganya kehilangan pekerjaan, hidup di tengah kabut asap, atau penghasilannya bergantung pada kebijakan pemerintah, berita tersebut bukan informasi yang bisa begitu saja di-mute.

Ia adalah kehidupan.

Di titik inilah kritik terhadap Maudy menjadi relevan. Sejumlah warganet menilai pesan “diet berita” berpotensi terdengar berbeda bagi kelompok masyarakat yang tidak memiliki ruang aman untuk mengambil jeda dari persoalan.

Kritik tersebut berkembang menjadi perdebatan mengenai privilege: kemampuan untuk menjauh dari suatu persoalan karena seseorang tidak berhadapan langsung dengan dampaknya.

Kita perlu berhati-hati menggunakan istilah tone deaf. Label tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang tidak peduli terhadap masyarakat.

Dalam konteks kontroversi ini, istilah itu lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap ketidaksesuaian pesan dengan pengalaman sebagian audiens.

Satu nasihat dapat terasa menenangkan bagi seseorang, tetapi terasa asing bagi orang lain.

Itulah problem terbesar komunikasi publik.

Ketika seseorang memiliki jutaan pengikut, kalimat sederhana tidak lagi berhenti sebagai percakapan pribadi.

Ia masuk ke ruang sosial yang jauh lebih luas, bertemu dengan manusia dari kelas ekonomi, wilayah, pekerjaan, dan pengalaman yang berbeda.

Karena itu, konteks menjadi penting.

Sarapan sehat, ruang nyaman, dan kemampuan menutup laptop mungkin bukan masalah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kenyamanan tersebut hadir bersamaan dengan pesan untuk mengambil jarak dari realitas, sementara sebagian audiens justru tidak memiliki pilihan untuk mengambil jarak.

Bukan karena mereka tidak ingin tenang.

Mereka hanya sedang berjuang bertahan.

Namun kritik juga seharusnya tidak membawa kita pada kesimpulan bahwa mindfulness adalah gagasan yang buruk.

Justru sebaliknya.

Kemampuan mengatur konsumsi informasi tetap penting. Membaca berita tanpa henti tidak otomatis membuat seseorang lebih peduli.