Analisa Haidar Alwi: Kekuatan sekaligus Kerentanan Gerindra dalam Kedekatan Identitas Prabowo

Ir. R Haidar Alwi, MT.

Namun, angka agregat tersebut belum menjelaskan perpindahan pemilih. Tidak tersedia dasar untuk memastikan bahwa pendukung Gerindra beralih kepada Golkar, memilih partai lain, atau masuk kategori tidak menjawab.

Demikian pula, besarnya kelompok tanpa jawaban tidak dapat langsung diklaim sebagai penolakan terhadap pemerintah ataupun dukungan tersembunyi kepada oposisi.

Persoalan yang lebih dalam terlihat pada lemahnya hubungan masyarakat dengan partai.

Rilis resmi Poltracking mencatat hanya 12,3 persen responden merasa dekat dengan partai politik, sedangkan 66,8 persen tidak merasa dekat.

Temuan ini memperlihatkan jarak antara kesediaan memilih sebuah partai dan keterikatan yang bertahan terhadap partai tersebut.

Hubungan yang renggang membuat dukungan berpotensi mudah berubah ketika harapan tidak terpenuhi. Partai dapat memperoleh suara tanpa berhasil membangun kepercayaan jangka panjang.

Dalam keadaan demikian, popularitas elite dan posisi dalam pemerintahan belum cukup menjamin loyalitas pemilih apabila hubungan dengan masyarakat hanya terasa menjelang pemungutan suara.

Tantangan representasi juga terlihat ketika 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih calon legislatif, dibandingkan 24,7 persen yang lebih cenderung memilih partai.

Pada saat yang sama, 57,6 persen tidak mengetahui atau mengenal anggota DPR yang mewakili daerahnya.

Kedua temuan ini menunjukkan pentingnya menelaah apakah hubungan pemilih dengan wakil rakyat benar-benar berlanjut setelah pemilu.

Bagi Gerindra, kedekatan identitas dengan Prabowo dapat menjadi kekuatan sekaligus sumber kerentanan.

Secara politik, penilaian terhadap kepemimpinan presiden berpotensi memengaruhi partai yang paling erat diasosiasikan dengannya.

Namun, survei elektabilitas partai ini belum membuktikan besarnya pengaruh tersebut, sehingga tidak tepat digunakan untuk menyimpulkan tingkat kepuasan terhadap presiden atau penerimaan masyarakat atas suatu program pemerintah.

Batas waktu survei juga harus ditempatkan secara jelas. Pengumpulan data berlangsung pada 14–20 Agustus 2026 dan hasilnya diumumkan pada 23 September.

Dengan demikian, survei ini tidak mengukur pengaruh peristiwa setelah 20 Agustus dan belum dapat diperlakukan sebagai penilaian publik tepat pada peringatan dua tahun pemerintahan.

Rilis resmi menyebut keterlibatan 1.220 responden dengan margin kesalahan sekitar 2,9 poin persentase pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pesan politik yang perlu diperhatikan seluruh partai adalah rapuhnya dukungan ketika pilihan elektoral tidak disertai hubungan kepercayaan yang kuat.

Gerindra menghadapi pekerjaan mempertahankan keunggulan sekaligus memulihkan angka dukungan, sedangkan PDIP perlu membuktikan kemampuannya menjadi pilihan yang dipercaya.

Kedudukan dalam pemerintahan maupun ketajaman kritik akan dinilai melalui hasil yang dirasakan masyarakat, keterbukaan terhadap pengawasan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan.

Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) / Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB