Mengapa? ini disebut “strategic absence” ketidakhadiran yang dirancang untuk menghindari konfrontasi. Tapi ada alasan yang lebih dalam, ini disebut “Tutup Wajah” menutup wajah untuk melindungi yang di belakangnya.
Jika Gibran hadir, dan jika ia tidak bisa menunjukkan ijazah SMA, maka yang runtuh bukan hanya dirinya. Tapi juga Jokowi. Ayahnya. Sosok yang membuka pintu untuknya. Sosok yang membangun dinasti.
Sobat… Gibran tidak datang ke sidang. Tapi nasi goreng sudah matang. Dan dalam Ngelmu Titen, ketika seseorang tidak datang, sementara yang lain sudah memasak, itu tanda bahwa ada sesuatu yang sedang disiapkan.
Puan atau AHY ?
Inilah hubungannya.
Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Sesuatu yang hanya bisa dibaca dengan mata terbuka. Sesuatu yang dalam Niteni Serat Diri disebut “Sasmita” tanda yang tertanam.
Dan tanda itu berbunyi: “Sing bisa maca tandha, bakal slamet; sing ora bisa maca tandha, bakal keteter.”
Eling lan Waspada. Memayu hayuning bawana.
Penulis: RIDWAN SANK (Founder Niteni Serat Diri)
Sumber: FB @Ridwan Sank










