Infrastruktur Masih Minim, Target 1.000 Dapur Baru Badan Gizi Nasional Dinilai Terburu-buru

Infrastruktur Masih Minim, Target 1.000 Dapur Baru Badan Gizi Nasional Dinilai Terburu-buru dok.google

FAKTANASIONAL.NET – Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan rencana ekspansi dengan menargetkan pengoperasian 1.000 unit dapur pelayanan baru di berbagai daerah mulai bulan ini. Langkah tersebut diambil guna menggenjot jangkauan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi peserta didik dan kelompok rentan di wilayah pelosok.

Pengembangan fasilitas ini diprioritaskan untuk memangkas kesenjangan pemenuhan nutrisi, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Lewat model dapur komunal terpadu, BGN berjanji akan menjaga kualitas sajian agar memenuhi standar kebersihan serta tingkat gizi harian yang dibutuhkan anak. Skema ini juga direncanakan menyerap komoditas lokal dengan menggaet petani, peternak, hingga UMKM sekitar.

Meski demikian, rencana ekspansi dalam skala besar ini memicu keraguan dari sejumlah pengamat. Pengadaan ribuan dapur dalam waktu singkat dikhawatirkan mengabaikan kesiapan rantai pasok dan pengawasan mutu di lapangan, yang berisiko memicu masalah baru seperti pemborosan anggaran hingga potensi keracunan makanan jika standar higienitas gagal dijaga secara konsisten.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengklaim bahwa penambahan unit operasional ini merupakan fondasi utama dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

“Kami tidak hanya membangun dapur dan membagikan makanan, tetapi sedang mendesain fondasi kesehatan jangka panjang bagi generasi muda Indonesia. Dengan tambahan 1.000 unit dapur ini, standar pemenuhan gizi anak dapat terdistribusi secara merata, tepat waktu, dan terjaga kualitasnya hingga ke pelosok,” tegas Dadan dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Efektivitas program masif ini kini bergantung pada transparansi tata kelola BGN. Tanpa pengawasan ketat dan kesiapan infrastruktur dasar yang matang di daerah, target seribu dapur baru tersebut berisiko sekadar menjadi capaian kuantitas di atas kertas ketimbang solusi nyata bagi penanganan tengkes (stunting).