Sanghyang Asta Dewa, Pamomong Jagat

Sanghyang Asta Dewa, Pamomong Jagat/(Foto: Ilustrasi)

Walaupun nama-nama tersebut kerap muncul dalam pembahasan yang berdekatan, hubungan di antara mereka tidak dapat langsung dianggap sebagai satu identitas. Setiap versi memiliki latar cerita dan penafsiran tersendiri.

Perbedaan tersebut menjadi alasan penting untuk menelusuri sumber yang digunakan oleh masing-masing penutur.

Kesamaan tema atau penyebutan nama dalam sebuah cerita belum cukup untuk membuktikan bahwa seluruh tokoh mempunyai asal-usul maupun kedudukan yang sama.

Selain dikaitkan dengan Syekh Subakir, Asta Dewa juga muncul dalam cerita mengenai Gunung Semeru.

Dalam salah satu versi legenda, ia digambarkan sebagai sosok spiritual yang mempunyai kedudukan tinggi dan berhubungan dengan wilayah gaib tertentu.

Cerita tersebut memperluas gambaran Asta Dewa dari tokoh yang terlibat dalam perjanjian menjadi figur yang ditempatkan dalam struktur kekuasaan spiritual menurut kepercayaan tertentu.

Sejumlah tulisan populer turut menghubungkannya dengan Pangeran Naga Kidul dan Nyi Roro Kidul.

Dalam versi lain, terdapat cerita mengenai sosok naga hitam yang disebut sebagai istrinya.

Narasi tersebut juga menyebut nama Joyo Menggolo atau Eyang Lawu dan Joyo Wiseso sebagai dua putra yang dikaitkan dengan silsilahnya.

Nama Jaya Dharma dan Dewi Nawang Wulan juga muncul dalam rangkaian cerita mengenai keturunan Asta Dewa dan Nyi Roro Kidul.

Namun, keterangan tersebut masih berada dalam wilayah mitologi. Belum ditemukan bukti sejarah yang cukup untuk memastikan silsilah tersebut sebagai hubungan keluarga yang tercatat secara historis.

Persoalan lain muncul ketika Asta Dewa dikaitkan dengan Bathara Tunggal.

Sebuah versi penafsiran menghubungkan Sang Hyang Asta Dewa dengan kepercayaan Kapitayan dan menggambarkannya sebagai pemimpin para Sanghyang di Gunung Semeru.

Ada pula penjelasan yang mengaitkan istilah Asta Dewa dengan delapan manifestasi ilahi dan penjagaan delapan arah mata angin.

Akan tetapi, penjelasan tersebut belum membuktikan bahwa Asta Dewa merupakan nama lain Bathara Tunggal.

Kepastian mengenai hubungan keduanya membutuhkan sumber yang secara jelas menyebut kedua nama tersebut dalam konteks yang dapat diperiksa.

Penelitian lebih lanjut perlu diarahkan pada naskah kuno, tradisi lisan yang terdokumentasi, serta catatan sejarah lokal.

Identitas naskah, perkiraan masa penulisan, dan asal koleksi juga perlu diperiksa agar penafsiran tidak hanya bertumpu pada pengulangan cerita.

Dengan pendekatan tersebut, kisah Asta Dewa dapat ditelusuri secara lebih terarah. Penelitian tidak harus menolak kepercayaan masyarakat, tetapi perlu membedakan nilai budaya sebuah legenda dari kepastian historis tokoh yang diceritakan.

Pada akhirnya, Asta Dewa merupakan figur yang menarik untuk dikaji dalam khazanah legenda spiritual Jawa.

Hubungannya dengan Syekh Subakir, Gunung Semeru, Eyang Ismoyo, Nyi Roro Kidul, dan Bathara Tunggal memperlihatkan luasnya jaringan cerita yang berkembang di masyarakat.

Meski begitu, asal-usul dan identitas historisnya belum dapat dipastikan.

Penelitian berbasis sumber yang dapat diverifikasi menjadi langkah penting untuk memahami apakah berbagai kisah tersebut berasal dari tradisi yang sama atau berkembang melalui penafsiran yang berbeda.[dit]