Trump Jadikan Nama Mohammad Bahan Candaan Saat Singgung Presiden Iran

Donald Trump Klaim Keamanan Greenland di Pegang AS/Instagram

“Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden,” ujarnya.

Pernyataan Trump tersebut menjadi bagian dari retorika politiknya saat berkampanye menjelang pemilihan umum sela di Amerika Serikat.

Para pembela hak asasi manusia (HAM) dan kelompok advokasi Muslim berulang kali mengkritik Trump. Mereka menilai sejumlah pernyataannya mengejek umat Islam, imigran, serta kelompok minoritas etnis.

Retorika tersebut semakin menguat selama musim kampanye pemilu sela. Trump terutama melontarkan pernyataan yang menyasar warga Amerika keturunan Somalia dan komunitas Muslim.

Sejumlah tokoh yang turut menjadi sasaran retorikanya antara lain Abdul El-Sayed, calon Senat AS dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar. Anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili Minnesota itu datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi dari Somalia.

Sementara itu, laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) atau Dewan Hubungan Islam Amerika yang dirilis pada awal 2026 mengaitkan peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat dengan sejumlah faktor. Di antaranya adalah tindakan tegas pemerintahan Trump terhadap imigrasi dan aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan keduanya.

Kritik tersebut menempatkan pernyataan Trump mengenai nama Mohammad dalam konteks perdebatan yang lebih luas tentang retorika politik dan perlakuan terhadap komunitas Muslim di Amerika Serikat.[dit]

Exit mobile version