Komarudin Watubun Bicara Estafet Kepemimpinan di Sekolah Partai PDIP

“Di sana kita belajar bagaimana Pancasila, dasar negara, supaya jangan kita buat pelanggaran terhadap konstitusi, kan? Jadi kita sadarkan kepada generasi muda bahwa semua berproses, tidak ada yang jatuh dari langit. Supaya suatu ketika mereka jadi pejabat, mau jadi presiden, wakil presiden, harus siap, tidak bisa dipaksa. Nanti bikin rusak negara itu,” tegasnya.

Menjembatani Kesenjangan Antar-Generasi

Lebih lanjut, ketika disinggung mengenai potensi adanya gap atau kesenjangan komunikasi antara kalangan elite politik tua dengan realitas kaum muda masa kini, yang sering kali berujung pada aksi turun ke jalan, Komarudin mengakui adanya jarak tersebut.

Namun, melalui Sekolah Partai, PDI Perjuangan berupaya meruntuhkan sekat-sekat pemisah agar kaum muda tidak bersikap apatis terhadap keadaan bangsa.

“Nah, itu makanya sekarang kita karena ada gap ini, kita buka gap-nya supaya ketemu kan di situ. Yang menjadi masalah kalau kita yang tua tetap bertahan, yang muda tetap apatis terhadap keadaannya. Ini yang kita lagi buka jalan untuk kita duduk sama-sama karena masa depan bangsa ini ada di tanganmu, bukan ada di tangan saya lagi,” pungkas Komarudin.

Melalui langkah terbuka ini, PDI Perjuangan berharap generasi muda dapat lebih mengenal sejarah bangsanya, memahami esensi berpolitik secara sehat, serta siap memegang estafet kepemimpinan nasional di masa depan tanpa kehilangan akar nilai-nilai kebangsaan.