Fiqi menyoroti pernyataan Gubernur Kalbar sebelumnya mengenai keterlibatan perusahaan dalam karhutla. Namun, menurutnya, identitas korporasi yang dimaksud dan perkembangan proses hukumnya belum dijelaskan secara terbuka.
“Korporasi yang memang kemarin disampaikan oleh Pak Gub, tidak ada transparansinya itu korporasi apa yang melakukan karhutla. Hari ini kita di ambang ambigu semuanya. Kami kecewa sekali ketika tidak ada satu pun yang kita sebut sebagai gubernur kita hari ini menampakkan diri untuk menjawab keresahan kita,” tambah Fiqi.
Mahasiswa menuntut keterbukaan data perusahaan yang diduga melanggar aturan karhutla, kejelasan pemeriksaan dan penegakan hukum, serta kebijakan perlindungan lingkungan yang memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Ketegangan di lapangan sempat memicu aksi kejar-kejaran antara polisi dan demonstran. Situasi tersebut juga menyebabkan sebagian ruas Jalan Ahmad Yani, Pontianak, tertutup.
Setelah berlangsung hingga larut malam, massa mulai membubarkan diri secara bertahap sekitar pukul 23.00 WIB.
Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal dugaan pemukulan terhadap peserta aksi sekaligus menagih transparansi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam penanganan karhutla.
Mereka menginginkan kejelasan mengenai perusahaan yang diduga terlibat serta proses hukum yang berjalan. Pendataan korban dan pengumpulan bukti juga direncanakan untuk mendukung upaya pengusutan dugaan kekerasan dalam demonstrasi tersebut.[dit]











