Ekspansi ke Mancanegara, Pagi Sore Angkat Helmy Yahya sebagai Brand Ambassador

Helmy Yahya bersama para investor dan owner Restoran Padang Premium Pagi Sore/Dok Ist.

Sebagai bagian dari strategi pengembangan tersebut, Pagi Sore menunjuk Helmy Yahya sebagai brand ambassador. Kehadiran Helmy diharapkan memperkuat promosi merek sekaligus mendorong ambisi perusahaan menjadi salah satu pemain kuliner Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional.

Helmy menyebut, target awal perusahaan adalah menyelesaikan pembukaan tiga cabang pada 2026, kemudian menambah tujuh cabang pada 2027. Meski demikian, ia optimistis jumlah gerai Pagi Sore berpotensi tumbuh lebih besar.

“Target dari CEO, Pak Erwin, itu tiga cabang di 2026 bisa kita rampungkan dan di 2027 akan ada tujuh cabang lagi. Tapi saya optimistis bisa lebih dari 20 cabang yang hadir melayani konsumen di akhir 2027,” kata Helmy.

Menurut Helmy, kuliner Indonesia memiliki peluang untuk berkembang di pasar global apabila didukung strategi promosi yang tepat, kualitas produk yang konsisten, serta kebijakan pemerintah yang mendorong ekspansi bisnis makanan ke luar negeri.
Ia mencontohkan perkembangan restoran Thailand yang dinilainya berhasil menjadikan kuliner sebagai salah satu instrumen promosi budaya dan ekonomi.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, investor, lembaga keuangan, pelaku usaha, petani, dan diaspora dapat membantu memperluas jangkauan kuliner nasional.

Helmy mengungkapkan, Pagi Sore telah menerima tawaran untuk membuka cabang di Malaysia dan Singapura, serta Australia. Bahkan, terdapat permintaan untuk menjajaki pembukaan gerai di Roma, Italia.

Ia juga berharap Pagi Sore suatu saat dapat hadir di Makkah, Madinah, serta kota-kota di China, seperti Shanghai, Beijing, dan Shenzhen, yang menjadi tujuan perjalanan wisata masyarakat Indonesia.

Dorong Ekonomi Lokal dan Manfaatkan Teknologi

Selain peluang ekspansi, Helmy menyoroti dampak ekonomi yang dapat dihasilkan dari pertumbuhan bisnis restoran. Menurutnya, industri kuliner memiliki efek berganda karena melibatkan rantai pasok bahan pangan, menyerap tenaga kerja, dan menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi usaha.

“Supply chain-nya sudah jelas. Pasti ada pemasok beras, daging ayam, telur, dan rempah-rempah. Artinya, akan ada pergerakan ekonomi di wilayah tersebut. Belum lagi penyerapan tenaga kerjanya,” ujarnya.

Ia mencontohkan, gerai Pagi Sore di kawasan Pemuda, Jakarta, mempekerjakan sekitar 80 orang, sedangkan gerai di Kota Wisata Cibubur menyerap sekitar 70 pekerja. Perusahaan juga berkomitmen memberikan pelatihan kepada sumber daya manusia untuk menjaga kualitas pelayanan dan cita rasa.

Helmy menambahkan, pemanfaatan teknologi di dapur pusat atau *central kitchen* menjadi salah satu strategi untuk memastikan konsistensi rasa di seluruh cabang. Pagi Sore juga tengah mengembangkan bumbu yang dapat bertahan lebih lama tanpa menggunakan bahan pengawet, dengan tetap menjaga kualitas dan cita rasa.

Menurutnya, kombinasi antara konsistensi produk, penguatan sumber daya manusia, teknologi, dan promosi dapat menjadi modal bagi Pagi Sore untuk memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Melalui agenda The Next Chapter Pagi Sore, perusahaan ingin memastikan bahwa ekspansi bisnis berjalan seiring dengan pelestarian warisan kuliner Minangkabau, regenerasi kepemimpinan, serta penguatan kolaborasi dengan investor dan mitra usaha.