FAKTANASIONAL.NET – Malam ini, di depan redup layar smartphone dan keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara hewan di malam hari, saya terdiam sejenak.
Pikiran saya melayang, menjauh dari rutinitas harian yang menuntut kecepatan, mengejar tenggat waktu, meracik referensi untuk berita Indonesia yang tak pernah sepi dari intrik, hingga mendalami ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang seolah tak berujung.
Ada kelelahan mental yang diam-diam menumpuk. Kelelahan yang tidak bisa diselesaikan sekadar dengan tidur atau pelarian sesaat.
Dalam pencarian akan ketenangan rumus hidup untuk menstabilkan emosi di tengah tuntutan pekerjaan, tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sosok Michel Foucault.
Ia adalah seorang filsuf, sejarawan ide, dan pemikir strukturalis asal Prancis yang mungkin bagi sebagian orang terdengar eksentrik, namun bagi saya malam ini, pemikirannya adalah jendela yang baru saja didobrak dari dinding buntu pikiran saya sendiri.
Tulisan ini adalah sebuah catatan jiwa yang saya tulis bukan untuk mengejar traffic atau clickbait, melainkan untuk membedah isi kepala saya sendiri melalui kacamata Foucault.
Tidak untuk menghakimi, menilai orang lain, ataupun menyinggung orang lain, hanya semata-mata ingin intropeksi diri saya sendiri dan menyuarakan tentang trend hari ini tentang “Tidak Bercerita” Yang membuat banyak orang mengklaim bahwa yang kuat itu tidak pernah bercerita, sehingga membuat ketitik intinya seseorang tidak ingin bercerita dan mengakhiri hidup menjadi pandangan sebuah keheroikan di akhir kehidupan nya,
Bagi saya itu kebodohan yang sangat besar, percayalah harus diketahui, lekatkan pada dirimu, saat engkau mati itu tidak menghilangkan masalah mu, malah akan menambah masalahmu di alam berikut nya, kau akan diminta pertanggungjawaban atas keputusan mu untuk mengakhiri hidup sedangkan engkau tidak mencoba datang kepada Tuhan di malam hari, Neraka mutlak lah tempat mu.
Mari kita telusuri bagaimana konsep-konsep gagasannya tentang kegilaan, relasi kuasa, dan “teknologi diri” bisa menjadi peta jalan untuk merawat kesehatan mental kita di era modern ini.
Mendefinisikan Ulang “Sakit” dan Konstruksi Kewarasan
Sering kali, ketika kita merasa penat, cemas, atau burnout akibat rentetan informasi tanpa henti, kita buru-buru melabeli diri kita dengan diagnosis tertentu.
Foucault mengajak kita untuk membongkar kembali konsep tentang “sakit”. Dalam kajian filsafat medis, terdapat tiga lapis penderitaan: Disease (penyakit objektif pada tubuh fisik, seperti memar atau virus), Illness (pengalaman subjektif kita terhadap rasa sakit tersebut), dan Sickness (konsep, teori, dan kesepakatan sosial tentang apa itu “sakit”).
Foucault menitikberatkan perhatiannya pada ranah ketiga: Sickness. Baginya, definisi sehat atau sakit, waras atau gila, sering kali bukanlah sebuah realitas objektif, melainkan sebuah konstruksi sosial.
Ini adalah hasil kesepakatan (intersubjektivitas) yang diciptakan oleh mereka yang memiliki otoritas atau kekuasaan dalam hal ini, institusi medis, psikiater, hingga norma mayoritas masyarakat.
Ketika saya menatap layar dan merasa “berbeda” atau tidak mampu mengikuti ritme dunia yang serba cepat ini, masyarakat modern dengan mudah memvonis bahwa ada yang kesalahan dalam diri saya.
Namun dari sudut pandang Foucault menyebut fenomena ini sebagai medikalisasi. Segala sesuatu yang menyimpang dari standar mayoritas tiba-tiba dikategorikan sebagai masalah medis.
Jika kita tidak produktif, jika kita butuh waktu untuk diam dan menarik diri, kita dianggap “sakit” dan harus segera “disembuhkan” agar kembali bisa berfungsi sebagai roda penggerak industri kapitalis.
Dalam bukunya History of Madness, Foucault membuktikan bahwa standar kenormalan ini berubah-ubah sepanjang sejarah.
Pada era klasik, orang yang bertingkah laku aneh atau di luar nalar tidak serta merta dikurung; mereka kerap dianggap memiliki pengalaman spiritual khusus, bahkan dianggap mendapat anugerah.
Masuk ke abad ke-17, muncul Great Confinement (pengurungan besar-besaran), di mana mereka yang dianggap “gila”, bersama dengan para pengemis dan pengangguran, diisolasi.
Alasannya bukan medis, melainkan murni ekonomi: mereka dianggap tidak produktif dan membebani masyarakat. Barulah pada abad ke-18 dan ke-19, pendekatan medis mulai mendominasi, dan “kegilaan” resmi dilabeli sebagai penyakit jiwa yang harus didisiplinkan.
Menyadari hal ini memberikan saya sebuah kelegaan yang aneh. Terkadang, perasaan tidak baik-baik saja yang saya alami bukanlah sebuah kecacatan mental, melainkan respons yang sangat manusiawi terhadap dunia yang memang berjalan terlalu cepat.
Standar “normal” yang selama ini membebani pundak saya—harus selalu up-to-date, harus selalu produktif meracik SEO, harus selalu relevan—hanyalah standar artifisial yang diciptakan oleh zaman.
Jika saya merasa aneh, mungkin saya hanya sedang menolak untuk tunduk pada narasi “normal” tersebut.
Relasi Kuasa yang Tak Terlihat
Mengapa kita begitu patuh pada standar-standar kenormalan itu? Jawabannya, menurut Foucault, terletak pada Relasi Kuasa (Power Relations).
Kekuasaan dalam pandangan Foucault bukanlah sesuatu yang hanya dipegang oleh raja, presiden, atau pemerintah.
Kekuasaan itu menyebar, mengalir, dan bekerja di setiap celah kehidupan kita: di ruang redaksi, di kolom komentar media sosial, di sekolah, di rumah sakit, bahkan di dalam pikiran kita sendiri.
Kekuasaan memproduksi pengetahuan, dan pengetahuan memperkuat kekuasaan (Power is Knowledge).
Institusi yang memiliki kuasa berhak memproduksi “pengetahuan” tentang apa yang disebut waras, sukses, atau ideal.
Dalam keseharian saya, kekuasaan ini mengambil wujud yang sangat halus namun mencengkeram.
Saya teringat konsep Foucault tentang Panopticon—sebuah desain penjara berbentuk menara bundar di mana para tahanan merasa diawasi setiap saat oleh penjaga di tengah menara, meskipun mereka tidak tahu apakah penjaga itu benar-benar sedang melihat mereka atau tidak. Akibatnya? Para tahanan mendisiplinkan diri mereka sendiri.
Dunia digital modern adalah Panopticon raksasa. Sebagai seseorang yang bekerja di media daring, saya (dan kita semua) hidup dengan perasaan terus-menerus diawasi.
Diawasi oleh algoritma, diawasi oleh netizen, diawasi oleh standar viralitas. Kita menyensor tulisan kita, mengatur gerak-gerik kita, memilah minat kita—bahkan ketika saya sekadar ingin menikmati berita transfer pemain sepak bola atau mencari hiburan dari dunia K-Pop—kita selalu berpikir: “Apa kata orang nanti? Apakah ini pantas? Apakah ini normal?”
Kita patuh secara permanen. Tanpa sadar, otoritas eksternal itu telah merasuk ke dalam kepala kita. Kita menghakimi diri kita sendiri dengan suara dan standar orang lain. Itulah yang sering kali membuat kita overthinking, cemas, dan kehilangan ketenangan. Kita teralienasi dari diri kita yang otentik karena kita sibuk menjadi “normal” versi kesepakatan sosial (atau versi New Normal yang dipaksakan).
Teknologi Diri (Technology of the Self) sebagai Jalan Pembebasan
Jika kekuasaan begitu absolut mengepung kita, lantas bagaimana kita bisa bernapas? Di masa-masa akhir hidupnya, Foucault menawarkan sebuah jalan keluar yang ia sebut sebagai Technology of the Self (Teknologi Diri).
Jika selama ini kita hanya mengenal teknologi untuk memproduksi barang (produksi), memanipulasi simbol (sistem tanda), atau mengontrol orang lain (kekuasaan), kita sering melupakan teknologi yang paling esensial: seni mengarahkan dan membentuk diri kita sendiri untuk mencapai kebijaksanaan, kebahagiaan, dan ketenangan.
Foucault merumuskan empat langkah praktis dari tradisi Yunani kuno dan spiritualitas awal untuk memodifikasi diri kita agar tidak mudah hancur oleh tekanan kuasa eksternal:











