Daerah  

Kejar Target Swasembada Garam 2027, Wapres Gibran Tinjau Rampungnya Tahap I K-SIGN di Rote Ndao

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendengarkan penjelasan maket proyek saat meninjau langsung lahan tahap pertama Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) seluas 616 hektare di Rote Ndao, NTT, Jumat (22/5/2026). Proyek terintegrasi ini ditargetkan mulai berproduksi tahun ini guna menopang target swasembada garam nasional pada 2027./Dok. Humas KKP

FAKTANASIONAL.NET – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung progres pembangunan tahap pertama Proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (22/5/2026).

Langkah ini menegaskan komitmen serius pemerintah dalam mempercepat kemandirian komoditas garam sekaligus memangkas angka impor secara signifikan.

Dalam peninjauan tersebut, dilaporkan bahwa pembangunan infrastruktur lahan seluas 616 hektare pada tahap pertama telah rampung 100 persen.

Kawasan ini pun ditargetkan untuk mulai memulai aktivitas produksi perdananya pada tahun ini juga.

K-SIGN diproyeksikan bakal menjadi salah satu pilar penopang utama dalam mewujudkan target ambisius swasembada garam nasional yang dipatok pada tahun 2027 mendatang.

Baca Juga: Khalil Gibran: Sayap-Sayap Patah

Wapres Gibran menekankan pentingnya percepatan penyelesaian seluruh fasilitas pendukung operasional di lapangan. Mengingat volume kebutuhan domestik yang sangat masif, operasional kawasan ini tidak boleh tertunda.

“Kebutuhan garam nasional mencapai 5 juta ton, dan kita belum mampu memenuhinya. Karena itu, Proyek K-SIGN di Rote sangat penting untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri, sejalan dengan prioritas Presiden dalam mewujudkan swasembada pangan,” ucap Gibran di sela-sela peninjauannya.

Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal dan Multiplier Effect

Lebih lanjut, Gibran menjelaskan bahwa kehadiran megaproyek ini tidak hanya dirancang untuk memenuhi urusan logistik dan industri pangan nasional semata, melainkan harus membawa dampak ekonomi langsung bagi kawasan terluar Indonesia.