FAKTANASIONAL.NET – Cendekiawan muda Dr. Faisal Lohy membuat sebuah sebuah uraian ringkas namun padat dengan data dan analisis yang tajam terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Berikut catatan Faisal Lohy dalam bentuk ringkasan yang ditampilkan secara ringkas. Dan salah satu yang tercatat adalah belanja pendidikan Rp 820,9 T, dipotong Rp 240 T untuk BGN-MBG.
– Pendapatan Rp 3.426 T
– Pajak Rp 2.908 T (84,88%)
– Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 517,4 T (15,10%)
– PNBP pengelolaan Sumber daya alam Rp 220 T (6,42%)
– Penerimaan negara mayoritasnya masih bertumpu pada pajak rakyat. Hasil pengelolaan ekonomis SDA masih sangat minim. Biaya penyelenggaraan negara bertumpu dominan di atas keringat rakyat.
– Konteks belanja, masih didominasi terbesarnya pembayaran bunga utang Rp 620 T (naik dari 2025 Rp 559 T)
– Refinancing pembayaran pokok utang Rp 802 T
– Belanja pendidikan Rp 820,9 T, dipotong Rp 240 T untuk BGN-MBG
– Akibat penyerapan dana jumbo ini, porsi anggaran pendidikan murni untuk hal-hal produktif, seperti riset teknologi, peningkatan kompetensi digital guru, pencetakan beasiswa sains dan renovasi sekolah rusak menjadi sangat terbatas
– pemotongan anggaran pendidikan untuk BGN-MBG melanggar putusan MK. pemerintah ngotot memaksa dengan alasan RAPBN 2027 sudah disusun, padahal masih berupa RUU belum disahkan menjadi UU, kalaupun sudah disahkan menjadi UU, tetap harus direvisi menyesuaikan amanat putusan MK.
– Efek pemotongan, mengakibatkan: anggaran pendidikan hanya tersisah 580,9 T atau 16,96%, di bawah kewajiban konstitusi minimal 20%.











