MACAM-macam rasa sedang bertamu.
Datang dari berbagai arah, seperti angin yang membuat dedaunan menari mengikuti kehendaknya.
Ia datang membawa dingin, panas, gelisah, rindu, kecewa, marah, takut, bahagia, bahkan perasaan yang sulit diberi nama.
Semua datang hampir bersamaan.
Sementara diri ini seperti satu pohon yang sedang berusaha tumbuh dan bertahan.
Akarnya ingin mencengkeram tanah.
Batangnya ingin tetap tegak. Ranting-rantingnya ingin menjulur ke langit.
Tetapi angin dari berbagai penjuru terus menghempaskannya.
Sesekali ke kanan.
Sesekali ke kiri.
Kadang hampir patah.
Namun anehnya, pohon itu masih memilih bertahan.
Mungkin begitulah manusia.
Kita sering terlihat tenang bukan karena hidup benar-benar tenang.
Kita hanya belajar menyembunyikan badai di balik wajah yang terlihat biasa.
Kita tersenyum ketika dada sedang penuh.
Kita menjawab, “Tidak apa-apa,” ketika sebenarnya banyak hal ingin keluar dari mulut.
Kita tidur dengan tubuh yang lelah, tetapi pikiran masih berjalan ke mana-mana.
Dan pada malam tertentu, ketika dunia mulai diam, justru suara paling gaduh datang dari dalam diri sendiri.
Malam itu mungkin salah satunya.
Aku ingin memejamkan mata.
Membiarkan semuanya selesai dengan sendirinya.
Membiarkan rasa datang dan pergi tanpa perlu ditanya.
Tanpa perlu dijelaskan.
Tanpa perlu dicari sebabnya.
Bukankah sebagian hal memang lebih mudah jika dibiarkan berlalu?
Bukankah terkadang tidur menjadi cara paling sederhana untuk menghindari percakapan panjang dengan diri sendiri?
Tetapi malam itu aku menyadari sesuatu.
Tidak semua tamu yang datang boleh dibiarkan pulang sendirian.
Ada tamu yang membawa pesan.
Ada yang datang untuk mengingatkan.
Ada yang hadir untuk memperlihatkan luka yang selama ini disembunyikan.
Ada pula yang datang hanya untuk mengajarkan bahwa hati manusia ternyata jauh lebih luas daripada yang selama ini kita kira.
Maka aku memilih bangun.
Bukan untuk melawan rasa.
Melainkan untuk mengenalinya dan mengantarkannya pulang.
Ya.. iya.. saya tau, kadang perasaan sering kali kita perlakukan seperti musuh.
Ketika marah, kita ingin segera menghilangkannya.
Ketika sedih, kita memaksa diri untuk segera bahagia.
Ketika kecewa, kita pura-pura tidak peduli.
Ketika takut, kita merasa diri terlalu lemah.
Ketika rindu, kita menganggapnya sebagai gangguan.
Padahal perasaan bukan selalu sesuatu yang harus dimusnahkan.
Ia adalah bagian dari pengalaman manusia.
Sedih memberi tahu bahwa sesuatu memiliki arti.
Marah sering menunjukkan bahwa terdapat batas yang terasa dilanggar.
Takut mengingatkan bahwa diri sedang melihat sesuatu sebagai ancaman.
Kecewa menunjukkan adanya jarak antara harapan dan kenyataan.
Rindu memperlihatkan bahwa seseorang atau sesuatu pernah menempati ruang penting dalam kehidupan.
Santai baca terus tulisannya…. jangan terlalu cepat memberikan jawaban..!
Ya…. Saya tau bahwa perasaan memang tidak selalu memberi keputusan yang benar.
Tetapi perasaan sering memberi informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Di sinilah manusia perlu belajar membedakan antara merasakan sesuatu dan bertindak berdasarkan sesuatu.
Aku boleh marah.
Tetapi aku tidak harus menyakiti.
Aku boleh kecewa.
Tetapi aku tidak harus membalas.
Aku boleh sedih.
Tetapi aku tidak harus menyerah.
Aku boleh takut.
Tetapi aku tidak harus membiarkan ketakutan menentukan seluruh hidupku.
Barangkali kedewasaan bukan tentang tidak lagi memiliki emosi.
Kedewasaan adalah kemampuan untuk duduk bersama emosi tanpa membiarkannya memegang kemudi sepenuhnya.
Sebab rasa adalah tamu.
Ia boleh duduk di ruang hati.
Tetapi ia tidak harus menjadi pemilik rumah.
Malam itu, aku mencoba memahami kalimat sederhana tersebut.
Rasa datang.
Aku menyambutnya.
Aku mendengarkannya.
Kemudian, setelah cukup lama berbicara, aku mengantarnya pulang.
Satu per satu.
Memang tidaklah mudah, tapi saya rasa inilah cara terbaik untuk bangun tidur yang melegakan.
Tidak semua tamu datang setelah kita mengirim undangan.
Begitu pula perasaan.
Kita tidak pernah menjadwalkan kapan kesedihan harus datang.
Tidak pernah membuat kalender untuk menentukan kapan harus kecewa.
Tidak pernah mengirim pesan kepada diri sendiri: “Besok pukul delapan malam, silakan mulai merasa kehilangan.”
Tidak.
Perasaan sering datang tiba-tiba.
Sebuah lagu bisa membangkitkan kenangan.
Sebuah tempat bisa membuka kembali luka.
Satu kalimat dari seseorang bisa mengubah suasana hati.
Satu kabar dapat membuat dada terasa sesak.
Satu ingatan yang muncul di tengah malam mampu membawa kita kembali kepada masa yang sebenarnya sudah bertahun-tahun kita tinggalkan.
Itulah manusia.
Tubuh tinggal di masa kini.
Tetapi pikiran kadang bepergian ke masa lalu.
Dan harapan sering berjalan menuju masa depan.
Maka tidak mengherankan jika seseorang bisa duduk diam di sebuah kamar, tetapi di dalam kepalanya sedang terjadi perjalanan yang begitu panjang.
Malam itu aku pun demikian.
Ada banyak rasa yang datang.
Tidak semuanya bisa langsung kupahami.
Mereka datang seperti tamu dari desa yang berbeda-beda.
Ada yang membawa wajah lama.
Ada yang membawa penyesalan.
Ada yang membawa pertanyaan.
Ada yang membawa kerinduan.
Ada yang membawa kemarahan.
Ada yang membawa sesuatu yang bahkan tidak sanggup kusebutkan.
Aku ingin mengusir mereka.
Tetapi kemudian aku berpikir:
“Jika mereka sudah datang, mengapa tidak kutanya terlebih dahulu apa yang mereka inginkan?”
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengusir perasaan sehingga tidak pernah benar-benar mendengar pesannya.
Mungkin aku terlalu takut pada rasa sakit sampai lupa bahwa rasa sakit pun terkadang membawa pengetahuan.
Maka aku duduk.
Diam.
Mendengarkan.
Lalu tangan ini mengambil Smartphone yang sudah ditidurkan.
Dengan sedikit ritual. Jari-jemari pun mulai menari di atas papan ketik.
Satu kalimat muncul.
Kemudian kalimat berikutnya.
Tidak ada rencana besar.
Tidak ada kerangka yang terlalu rapi.
Hanya ada keinginan sederhana:
Mengantarkan rasa pulang.
Aku menulis bukan karena semua sudah selesai.
Justru aku menulis karena belum selesai.
Tulisan ini lahir dari sesuatu yang masih bergerak di dalam dada.
Barangkali itulah mengapa beberapa tulisan terasa lebih dekat dengan manusia.
Ia tidak lahir dari keadaan yang sepenuhnya tenang.
Ia lahir dari kegelisahan.
Dari pertanyaan.
Dari kesunyian.
Dari percakapan panjang antara manusia dengan dirinya sendiri.
Menulis terkadang bukan sekadar pekerjaan menyusun kata.
Menulis adalah cara memberi bentuk kepada sesuatu yang sebelumnya hanya terasa sebagai kekacauan.
Ketika perasaan masih berada di dalam kepala, semuanya terasa bercampur.
Marah bercampur kecewa.
Rindu bercampur takut.
Harapan bercampur kecemasan.
Kenangan bercampur penyesalan.
Tetapi ketika semuanya dituangkan menjadi kata, perlahan kita dapat melihat bentuknya.
“Oh, ternyata aku sedang kecewa.”
“Oh, ternyata yang membuatku marah bukan persoalan itu.”
“Oh, ternyata aku bukan membenci seseorang. Aku hanya terluka.”
“Oh, ternyata aku bukan ingin kembali. Aku hanya sedang merindukan versi diriku pada masa itu.”
Kesadaran seperti ini tidak selalu datang ketika kita memaksa diri untuk menemukan jawaban.
Kadang ia datang ketika kita memberi ruang kepada diri untuk berbicara.
Dan tulisan bisa menjadi salah satu ruang tersebut.
Namun ada satu hal yang perlu dipahami.
Menulis untuk menyembuhkan diri berbeda dengan menulis untuk melukai orang lain.
Tidak semua rasa harus dipublikasikan.
Tidak semua luka harus diumumkan.
Tidak semua nama harus disebut.
Tidak semua rahasia harus menjadi konsumsi banyak orang.
Ada tulisan yang memang ditujukan kepada dunia.
Tetapi ada pula tulisan yang hanya perlu dibaca oleh diri sendiri.
Tempat kita menaruh tulisan tidak akan menghakimi dan tidak tidak pula akan memotong pembicaraan.
Layar kosong tidak akan berkata bahwa perasaan kita terlalu berlebihan.
Di sana kita boleh jujur.
Sangat jujur.
Tetapi setelah emosi menjadi lebih tenang, kita perlu membaca kembali apa yang telah kita tulis.
Sebab tulisan yang lahir ketika emosi sedang berada di puncaknya terkadang mengandung kata-kata yang tidak lagi kita maksudkan ketika hati sudah teduh.
Karena itu, menulis bukan berarti menuruti seluruh dorongan.
Menulis justru bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak sebelum bertindak.
Tulis.
Baca.
Renungkan.
Kemudian pilih.
Itulah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap perasaan.
Aku kembali membayangkan sebuah pohon.
Ia tidak pernah meminta angin untuk berhenti.
Pohon tahu bahwa angin adalah bagian dari alam.
Yang bisa dilakukan hanyalah memperkuat akar.
Begitu pula manusia.
Kita tidak bisa mengendalikan semua keadaan.
Tidak bisa memaksa semua orang memahami kita.
Tidak bisa membuat masa lalu berubah.
Tidak bisa memastikan masa depan berjalan sesuai rencana.
Tidak bisa menghentikan semua kabar buruk.
Tidak bisa mengatur seluruh perkataan manusia.
Tidak bisa membuat semua hubungan bertahan selamanya.
Tetapi kita masih bisa merawat akar.
Akar itu mungkin berupa nilai.
Prinsip.
Iman.
Keluarga.
Persahabatan.
Pengetahuan.
Pengalaman.
Kesadaran diri.
Dan kemampuan untuk berkata:
“Aku tidak dapat mengendalikan semuanya, tetapi aku masih bisa menentukan bagaimana aku tetap menjadi diriku sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menjalankannya tidak sederhana.
Sebab ketika emosi sedang tinggi, manusia sering kehilangan jarak antara perasaan dan tindakan.
Marah terasa seperti perintah.
Kecewa terasa seperti alasan untuk membalas.
Takut terasa seperti alasan untuk melarikan diri.
Rindu terasa seperti alasan untuk kembali kepada sesuatu yang sebenarnya telah selesai.
Padahal rasa hanyalah bayang-bayang yang menunjukkan kesejatian nya.
Ia bukan keputusan akhir.
Mungkin beberapa rasa tidak membutuhkan solusi.
Ia hanya ingin didengar.
Kesedihan tidak selalu membutuhkan nasihat.
Kadang ia hanya ingin seseorang berkata:
“Tidak apa-apa, kamu sedang lelah.”
Kekecewaan tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang.
Kadang ia hanya ingin diakui:
“Ya, itu memang menyakitkan.”
Ketakutan tidak selalu membutuhkan keberanian yang besar.
Kadang ia hanya membutuhkan ruang untuk bernapas.
Manusia sering terburu-buru memperbaiki sesuatu yang sebenarnya hanya ingin dipahami.
Kita ingin segera memberikan jawaban kepada orang yang sedang sedih.
Kita ingin segera menyuruhnya berpikir positif.
Kita ingin segera mengatakan bahwa masih banyak orang yang lebih susah.
Padahal membandingkan luka tidak membuat luka menjadi lebih kecil.
Seseorang yang patah hati tidak menjadi lebih baik hanya karena orang lain memiliki masalah yang lebih berat.
Seseorang yang sedang kehilangan tidak otomatis sembuh karena diberi kalimat motivasi.
Empati terkadang jauh lebih sederhana.
Duduk.
Dengar.
Jangan buru-buru menghakimi.
Jangan menjadikan pengalaman orang lain sebagai arena untuk menunjukkan bahwa kita lebih kuat.
Sebab setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam menghadapi beban.
Yah, hingga Aku mulai memahami bahwa mengantar tamu pulang tidak sama dengan mengusirnya.
Mengusir berarti:
“Pergi! Aku tidak mau merasakan ini.”
Mengantar berarti:
“Aku sudah mendengarmu. Aku memahami mengapa kau datang. Sekarang waktunya kau kembali.”
Perbedaannya tipis.
Tetapi maknanya dalam.
Ketika kita mengusir rasa, sering kali ia kembali melalui pintu lain.
Kesedihan yang ditekan mungkin muncul sebagai kelelahan.
Kemarahan yang dipendam mungkin berubah menjadi kepahitan.
Ketakutan yang tidak pernah dibicarakan mungkin membuat seseorang terus menghindari hal-hal tertentu.
Kekecewaan yang tidak diolah mungkin membuat seseorang sulit mempercayai orang lain.
Karena itu, mengakui perasaan bukan berarti menyerah kepada perasaan.
Justru dengan mengakuinya, kita memperoleh kesempatan untuk mengelolanya.
Aku tidak perlu mengatakan:
“Aku tidak boleh sedih.”
Aku bisa mengatakan:
“Aku sedang sedih, dan aku ingin memahami mengapa.”
Aku tidak perlu mengatakan:
“Aku tidak boleh marah.”
Aku bisa berkata:
“Aku sedang marah. Aku akan menunggu sampai pikiranku cukup jernih sebelum mengambil keputusan.”
Di situlah jarak kecil antara emosi dan tindakan menjadi sangat berharga.
Satu tarikan napas.
Satu malam.
Satu halaman tulisan.
Kadang cukup untuk mencegah keputusan yang akan kita sesali bertahun-tahun.
Hmm… yah….. Seandainya malam itu aku memilih tidur, mungkin tulisan ini tidak pernah lahir.
Mungkin rasa itu hanya akan lewat.
Mungkin besok pagi aku bangun dan semuanya terlihat biasa.
Tetapi mungkin juga ada sesuatu yang hilang.
Sebab tidak semua malam harus segera ditidurkan.
Ada malam yang perlu dituliskan.
Ada malam yang perlu direnungkan.
Ada malam yang perlu digunakan untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi?”
“Kenapa hal kecil ini terasa begitu besar?”
“Kenapa aku masih memikirkan sesuatu yang sudah lama berlalu?”
“Apakah aku benar-benar marah kepada orang itu, atau sebenarnya marah kepada diriku sendiri?”
“Apakah aku sedang kehilangan seseorang, atau kehilangan harapan tentang seseorang?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu memiliki jawaban pada malam yang sama.
Tetapi bertanya sudah merupakan langkah.
Sebab manusia yang berhenti bertanya kepada dirinya sendiri akan mudah hidup berdasarkan kebisingan dari luar.
Ia mendengar terlalu banyak suara.
Namun kehilangan suara batinnya sendiri.
Hingga melampaui batas, ternyata aku mengetahui tidak semua perasaan memiliki nama.
Kadang kita hanya tahu bahwa hati sedang berat.
Tidak tahu mengapa.
Dan itu pun manusiawi.
Kita tidak selalu harus memiliki diagnosis atas setiap perubahan suasana hati.
Kita tidak harus menjadikan setiap kesedihan sebagai sesuatu yang harus segera diberi label.
Akan tetapi Manusia bukanlah juga seperti mesin.
Ada saatnya kita mampu mengurus diri sendiri.
Ada saatnya kita membutuhkan orang lain.
Dan meminta bantuan bukan berarti akar kita lemah.
Justru mungkin karena kita ingin pohon itu tetap hidup.
Tidak ada kehormatan dalam memikul semuanya sendirian jika beban tersebut sudah terlalu berat.
Kita boleh kuat.
Tetapi kita juga boleh membutuhkan pertolongan.
Aku juga pernah berpikir bahwa luka hanyalah sesuatu yang harus segera disembuhkan.
Sekarang aku melihatnya sedikit berbeda.
Luka memang harus dirawat.
Tetapi setelah cukup pulih, kita bisa bertanya:
“Apa yang diajarkannya?”
Bukan untuk meromantisasi penderitaan.
Bukan untuk mengatakan bahwa semua rasa sakit pasti memiliki alasan indah.
Tidak semua penderitaan perlu dicari hikmahnya secara tergesa-gesa.
Ada luka yang memang menyakitkan.
Ada kehilangan yang tetap menjadi kehilangan.
Ada perpisahan yang tidak akan berubah menjadi bahagia hanya karena kita menulis kalimat indah tentangnya.
Namun manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengambil makna dari pengalaman.
Kita dapat belajar mengenali batas.
Belajar memilih.
Belajar memaafkan.
Belajar mengatakan tidak.
Belajar tidak mengulangi kesalahan.
Belajar menghargai orang yang masih tinggal.
Belajar memahami bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar.
Dan terkadang belajar bahwa diri sendiri juga layak diperjuangkan.
Kemudian aku bertemu Rindu dan dia tamu yang paling pandai menyamar.
Ia bisa datang sebagai lagu.
Sebagai tempat.
Sebagai aroma.
Sebagai foto lama.
Sebagai percakapan yang tiba-tiba teringat.
Rindu sering membuat masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataannya.
Ia memilih bagian-bagian tertentu untuk ditampilkan.
Ia lupa memperlihatkan alasan mengapa sesuatu pernah berakhir.
Karena itu, ketika rindu datang, jangan langsung menyimpulkan bahwa kita harus kembali.
Rindu hanya mengatakan:
“Aku pernah memiliki sesuatu yang berarti.”
Itu saja.
Tidak semua yang kita rindukan harus kita miliki kembali.
Kita bisa merindukan seseorang tanpa harus menghubunginya.
Kita bisa merindukan sebuah tempat tanpa harus kembali ke sana.
Kita bisa merindukan masa lalu tanpa harus hidup di dalamnya.
Sebab rindu adalah kenangan yang mengetuk pintu.
Bukan perintah untuk membuka pintu dan tinggal bersamanya.
Maka malam itu, ketika rindu datang, aku tidak mengusirnya.
Aku duduk bersamanya.
Kuberi secangkir sunyi.
Kubiarkan ia bercerita.
Setelah selesai, aku berkata:
“Terima kasih sudah mengingatkan bahwa pernah ada sesuatu yang begitu berarti.”
Lalu kuantar ia pulang.
Oh.. yang ini sangat berisik..
Yah.. dia adalah Kecewa!
Dia datang membawa harapan yang tidak menemukan tempat.
Dia seperti bercerita bahwa kedatangan nya karena sebelumnya kita berharap.
Semakin besar harapan, terkadang semakin panjang bayangan kecewanya.
Namun dari kecewa kita belajar satu hal penting:
Manusia tidak selalu mampu memenuhi apa yang kita bayangkan tentang mereka.
Seseorang bisa berubah.
Seseorang bisa memilih jalan berbeda.
Seseorang bisa mengecewakan kita.
Dan kita pun pernah mengecewakan orang lain.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih manusiawi.
Bukan lebih sinis.
Kita boleh belajar berhati-hati tanpa menjadi penuh kecurigaan.
Boleh belajar membuat batas tanpa membangun tembok kepada semua orang.
Boleh berhenti berharap kepada seseorang tanpa harus membencinya.
Sebab melepaskan ekspektasi tidak selalu berarti kehilangan kasih.
Kadang itu adalah bentuk kasih yang lebih dewasa.
Kemudian aku menemui sang berkobar kobar. Yah dia si amrah.
Marah adalah tamu yang suaranya keras.
Ia mengetuk pintu dengan kuat.
Ia ingin segera bicara.
Ia ingin segera didengar.
Tetapi justru karena suaranya keras, ia tidak selalu harus langsung diberi mikrofon.
Ketika marah, tubuh bisa berada dalam keadaan yang membuat pertimbangan menjadi lebih sulit.
Maka mengambil jeda bukan berarti pengecut.
Diam beberapa saat bukan berarti kalah.
Menunda balasan bukan berarti tidak punya keberanian.
Justru kadang keberanian terbesar adalah menahan satu kalimat yang jika terucap tidak bisa ditarik kembali.
Marah boleh hadir.
Tetapi jangan biarkan kemarahan menulis surat yang kelak harus kita baca seumur hidup.
Jika perlu, tulislah dahulu di kertas.
Keluarkan semua.
Jangan kirim.
Baca kembali ketika hati lebih dingin.
Sering kali kita akan menemukan bahwa sebagian kalimat memang perlu disampaikan.
Tetapi sebagian lainnya ternyata hanya milik emosi sesaat.
Itulah mengapa jeda begitu penting.
Kemudian bertemulah aku dengan yang selalu membuat kekokohan manusia bergoyang.
Yah.. dia si takut.
Takut sering datang sebelum sesuatu terjadi.
Ia membawa banyak kemungkinan buruk.
“Bagaimana kalau gagal?”
“Bagaimana kalau ditolak?”
“Bagaimana kalau kehilangan?”
“Bagaimana kalau semua tidak sesuai harapan?”
Takut memiliki satu kelemahan:
Ia sering membuat kemungkinan terlihat seperti kepastian.
Padahal belum tentu.
Kita perlu membedakan antara risiko nyata dan ketakutan yang dibangun oleh pikiran.
Bukan berarti semua ketakutan harus diabaikan.











