TIDAK semua perjalanan harus berakhir di tempat yang jauh. Sebagian perjalanan justru membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri.
Bagi saya, gagasan itulah yang membuat Mantiqu’t-Tair atau Musyawarah Burung karya penyair sufi Fariduddin Attar tetap menarik dibaca dalam kehidupan hari ini.
Kisah tentang sekumpulan burung yang mencari raja mereka, Simurgh, sekilas seperti dongeng spiritual.
Namun semakin dalam dibaca, kisah tersebut terasa seperti cermin yang diarahkan kepada manusia: tentang keinginan, ketakutan, kesombongan, keterikatan, pencarian makna, hingga ego yang diam-diam sering menjadi pusat kehidupan.
Attar tidak sekadar menceritakan perjalanan menuju suatu tempat. Ia menghadirkan perjalanan batin.
Para burung dalam kisah tersebut memiliki berbagai alasan untuk tidak ikut.
Sebagian terikat oleh kenyamanan, sebagian takut menghadapi kesulitan, sementara yang lain memiliki alasan yang membuat mereka merasa perjalanan itu bukan untuk mereka.
Dalam pembacaan saya, di sinilah kisah lama itu justru bertemu dengan kehidupan modern.
Manusia hari ini mungkin tidak lagi tinggal di hutan dan berbicara sebagai burung.
Namun kita memiliki bentuk keterikatan yang berbeda. Kita terikat pada jabatan, uang, popularitas, kenyamanan, penilaian orang lain, bahkan citra yang kita bangun sendiri.
Kita ingin berubah, tetapi tidak ingin kehilangan kenyamanan. Kita ingin menjadi lebih baik, tetapi tidak selalu bersedia mengoreksi diri.
Kita ingin menemukan kebenaran, tetapi terkadang hanya mencari pembenaran.
Karena itu, Musyawarah Burung bagi saya bukan hanya karya sastra sufistik. Ia merupakan bahan renungan tentang manusia dan perjalanan panjangnya mengenal diri.
Ketika Manusia Mulai Bertanya kepada Dirinya Sendiri
Perjalanan menuju Simurgh dimulai dari sebuah kesadaran bahwa keadaan tidak dapat terus dibiarkan sebagaimana adanya.
Dalam kisah Attar, burung-burung berkumpul dan membicarakan kebutuhan mereka terhadap seorang raja.
Di balik cerita alegoris tersebut, saya melihat sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah kehidupan yang sedang dijalani sudah benar-benar memiliki arah?
Pertanyaan semacam itu sering muncul ketika seseorang berhenti sejenak dari rutinitas.
Selama manusia sibuk mengejar kebutuhan sehari-hari, pertanyaan tentang makna kehidupan sering tersingkir.
Bangun, bekerja, mendapatkan uang, mengejar target, membangun hubungan, mencari pengakuan, kemudian mengulang semuanya.
Rutinitas membuat kehidupan bergerak, tetapi belum tentu membuat manusia mengerti ke mana ia bergerak.
Di sinilah Lembah Pencarian dalam perjalanan menuju Simurgh dapat dibaca sebagai simbol kegelisahan intelektual dan spiritual.
Pencarian bukan sekadar mencari jawaban. Pencarian juga berarti berani mengakui bahwa kita belum mengetahui.
Bagi saya, ini penting dalam kehidupan modern. Dunia hari ini dipenuhi informasi, tetapi banyak informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi belum tentu memahami dirinya sendiri.
Kita mengetahui bagaimana orang lain hidup melalui media sosial. Kita mengetahui keberhasilan orang lain, perjalanan orang lain, kekayaan orang lain, bahkan pendapat orang lain.
Namun semakin banyak melihat kehidupan di luar diri, manusia terkadang justru semakin jauh dari dirinya sendiri.
Karena itu, pertanyaan paling sulit bukan selalu tentang dunia.
Kadang pertanyaan paling sulit adalah: mengapa saya hidup seperti ini?
Mengapa saya begitu membutuhkan pengakuan? Mengapa kritik membuat saya marah? Mengapa keberhasilan orang lain terasa mengganggu? Mengapa saya takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi milik saya?
Pertanyaan semacam itu merupakan awal perjalanan.
Tujuh Lembah sebagai Pendidikan Jiwa
Perjalanan burung-burung menuju Simurgh digambarkan melalui tujuh lembah. Dalam tradisi kisah tersebut, lembah-lembah itu menjadi tahapan perjalanan spiritual.
Saya melihatnya bukan sebagai peta perjalanan geografis, melainkan sebagai peta perubahan manusia.
Lembah pertama adalah pencarian. Manusia mulai meninggalkan kehidupan yang berjalan otomatis dan bertanya tentang arah hidupnya.
Kemudian terdapat Lembah Cinta. Dalam kerangka sufistik, cinta tidak sebatas hubungan romantis.
Cinta merupakan kekuatan batin yang mendorong manusia melewati batas kepentingan dirinya.
Cinta menuntut keberanian untuk memberikan, melepaskan, dan mendekati sesuatu yang dianggap lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.
Di zaman ketika hampir segala sesuatu mudah dihitung berdasarkan keuntungan, gagasan tersebut terasa penting.
Tidak semua hal yang bernilai dapat dihitung dengan angka.
Kejujuran mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung. Menolong orang lain mungkin tidak memberikan popularitas.
Menjaga prinsip mungkin membuat seseorang kehilangan kesempatan tertentu.
Namun kehidupan manusia tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan apa yang dapat diperoleh.
Setelah itu terdapat Lembah Kesadaran. Bagi saya, tahap ini sangat dekat dengan persoalan manusia modern.
Kesadaran berarti belajar melihat sesuatu lebih dalam daripada permukaannya. Kita tidak hanya bertanya apa yang terjadi, tetapi mengapa sesuatu terjadi dalam diri kita.
Marah, misalnya, bukan hanya persoalan suara yang meninggi. Bisa jadi terdapat luka, ketakutan, rasa tidak dihargai, atau ego yang tersentuh di belakangnya.
Demikian pula ambisi. Ambisi dapat menjadi energi untuk berkembang, tetapi dapat pula berubah menjadi keterikatan ketika harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada pencapaian.
Kemudian hadir Lembah Kebebasan. Saya memahami kebebasan dalam konteks ini bukan sebagai kebebasan melakukan apa saja, melainkan kebebasan dari belenggu batin.
Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap merasa miskin apabila hidupnya dikuasai ketakutan kehilangan. Seseorang bisa memegang jabatan tinggi tetapi tidak bebas jika seluruh harga dirinya bergantung pada jabatan tersebut.
Maka kebebasan sejati juga berkaitan dengan kemampuan untuk tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki.
Lembah Tauhid membawa perjalanan kepada kesadaran tentang keesaan Tuhan.
Dalam pembacaan keislaman, ini berarti manusia menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari seluruh kehidupan.
Keberhasilan dan kegagalan tidak lagi semata-mata menjadi alasan untuk membesarkan atau menghancurkan ego.
Kemudian datang Lembah Keheranan atau Ketakjuban.
Di sinilah manusia belajar bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan dengan kemampuan akalnya sendiri.
Bagi saya, ketidaktahuan tidak selalu merupakan kelemahan. Mengakui keterbatasan pengetahuan justru dapat menjadi awal kerendahan hati.
Tahap terakhir berkaitan dengan kefanaan, yaitu berkurangnya dominasi ego atau rasa keakuan.
Saya membaca gagasan ini bukan sebagai penghapusan keberadaan manusia, melainkan sebagai kritik terhadap ego yang menjadikan diri sendiri pusat segala sesuatu.
Manusia tetap bekerja, berpikir, berusaha, memiliki cita-cita, bahkan mengejar keberhasilan. Tetapi semua itu tidak lagi harus menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.
Ketika Ego Menjadi Penghalang Terbesar
Bagian paling menarik dari Musyawarah Burung bagi saya justru terletak pada kenyataan bahwa perjalanan menuju Simurgh tidak mudah.
Banyak burung tidak mampu melanjutkan perjalanan.
Di sinilah Attar seolah memperlihatkan bahwa hambatan terbesar manusia tidak selalu berasal dari luar. Kadang penghalang terbesar justru terdapat dalam dirinya sendiri.











