Fakta Nasional

10 Mahoni Tumbang, Farhan Kini Diuji, Berani Eksekusi atau “Damai Itu Indah”?

BANDUNG mendadak punya serial baru. Bukan Preman Pensiun. Bukan sinetron azab. Bukan pula drama percintaan Braga. Judulnya, “Gua Segel Loe!” Pemeran utamanya Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Musuhnya? Entah. Korbannya jelas, 10 pohon mahoni raksas…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 02 August 2026 📖 3 menit
10 Mahoni Tumbang, Farhan Kini Diuji, Berani Eksekusi atau “Damai Itu Indah”?
) -->

BANDUNG mendadak punya serial baru. Bukan Preman Pensiun. Bukan sinetron azab. Bukan pula drama percintaan Braga. Judulnya, “Gua Segel Loe!” Pemeran utamanya Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Musuhnya? Entah. Korbannya jelas, 10 pohon mahoni raksasa sudah puluhan tahun berdiri, kemudian tumbang entah atas perintah siapa.

Farhan ngamuk. Bukan ngamuk level “mohon diperhatikan”. Ini ngamuk level telunjuk sudah seperti senjata antirudal. “Gue segel nih tempatnya! Jangan ketawa lu! Gua serius gua segel nih tempat!”

Lalu keluar jurus pamungkas, “Gua segel loe!” Kalimat itu sekarang lebih terkenal daripada sebagian program pemerintah.

Masalahnya serius. Sepuluh mahoni di Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau dan kawasan Cihapit ditebang tanpa izin. Yang tersisa tunggul. Bahkan ada yang sudah ditutup semen dan rumput. Waduh. Mungkin pelakunya berpikir begini, pohonnya sudah hilang, tinggal disemen, lalu selesai. Ini bukan menghilangkan barang bukti. Ini make-up untuk tunggul.

Padahal menebang 10 pohon mahoni puluhan tahun bukan pekerjaan anak Pramuka sedang mencari kayu bakar. Perlu gergaji mesin, pekerja, tali, kendaraan besar, dan truk untuk mengangkut batangnya.

Operasinya pasti lebih ramai dari hajatan tujuh hari tujuh malam. Tapi kok bisa? Linmas tidak melihat. Pos ronda tidak mendengar. Warga tidak curiga.

Kalau benar begitu, pelakunya bukan tukang tebang biasa. Ini kandidat kuat dosen Hogwarts jurusan “Menghilangkan Sepuluh Pohon Tanpa Jejak.” David Copperfield mungkin minder.

Nama SixNine Coffee & Dining kemudian ikut disorot publik. Saya sudah mencoba melacak pemiliknya. Hasilnya? Zonk. Misteriusnya bukan main. Seperti manusia yang biodatanya disimpan di brankas luar angkasa.

Lalu muncul DM dari seseorang yang mengaku anggota Partai Koptagul. Ia mengklaim ada orang-orang sangat berpengaruh di belakang kafe tersebut. Bahkan disebut pengusaha tambang raksasa di Kalimantan.

Sekali lagi, ini klaim, bukan fakta yang sudah terbukti. Kalau benar, silakan penyidik membuktikan. Kalau salah, buang ke tong sampah bersama rumor lainnya. Tetapi jangan sampai rumor membuat kita lupa fakta paling keras kepala: sepuluh mahoni sudah tumbang.

Farhan sendiri sudah memasang garis kuning Satpol PP dan menyatakan penebangan melanggar Peraturan Daerah Kota Bandung serta Surat Edaran Moratorium Penebangan Pohon dari Gubernur Jawa Barat. Kasus juga akan dilaporkan kepada gubernur dan penegak hukum lingkungan di kementerian.

Farhan bahkan menyebut, “Akan kami pidanakan.” Nah! Di sinilah film sebenarnya dimulai. Sebab marah di depan kamera itu gampang. Bahkan kucing kehilangan ikan asin bisa ngamuk. Yang sulit adalah berani setelah kamera mati.

Farhan sendiri baru saja mengalami masa berat. Pada 10 Juli 2026 ia sempat dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak drop dan pucat di Balai Kota. Sekda menyebut kelelahan akibat jadwal kerja padat hingga sering memantau kegiatan sampai dini hari. Kondisinya membaik 11 Juli, dan 13 Juli sudah kembali bekerja. Hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi pencernaan memicu maag hingga vertigo.

Yang tumbang akhirnya bukan Farhan. Mahoni yang tumbang. Sekarang publik menunggu. Buka CCTV ATCS. Lacak truk. Periksa siapa yang menebang. Periksa siapa yang mengangkut. Periksa siapa yang memberi izin kalau memang ada. Kalau perlu, periksa sampai sandal pelakunya.

Sebab kalau rakyat kecil bisa berhadapan dengan hukum karena perkara kayu, publik tentu bertanya tentang kasus Paidi di Blora dan Samirin di Serdang Bedagai yang pernah menjadi bahan perdebatan soal rasa keadilan.

Pertanyaannya sederhana, kalau rakyat kecil bisa berurusan dengan hukum karena kayu, apakah sepuluh mahoni di tengah Bandung justru kehilangan pelakunya? Sekarang semua mata mengarah kepada Farhan. Bukan lagi menunggu dia marah. Publik menunggu keberanian. Kalau pelaku ditemukan dan diproses berdasarkan bukti, hormat.

Tetapi kalau ending-nya tiba-tiba berubah menjadi senyum, salaman, kopi bersama, lalu terdengar dialog keramat, “Damai itu indah.” Waduh. Publik mungkin tepuk tangan. Bukan karena kagum. Karena sadar mereka baru saja menonton trailer penegakan hukum termahal tahun ini.

Bandung sudah punya Braga, Gedung Sate, angklung, batagor, dan kreativitas. Jangan sampai ikon barunya menjadi kota tempat 10 pohon raksasa ditebang, semua orang ngamuk, semua orang berjanji, tetapi pelakunya menghilang seperti sinyal di basement.

Sekarang panggung sudah siap. Lampu menyala. Kamera merekam. Satpol PP sudah pasang garis. Farhan sudah berkata, “Gua segel loe!”

Tinggal satu adegan yang ditunggu seluruh penonton, siapa sebenarnya yang berada di balik gergaji itu, dan apakah Farhan benar-benar berani mengeksekusinya sesuai hukum? Karena 10 mahoni itu sudah mati sekali. Jangan sampai keadilan ikut mati untuk kedua kalinya.

Jamani


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK