Fakta Nasional

4 Tantangan Dihadapi Industri Manufaktur, Berikut Penjelasan Kemenperin

FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan industri manufaktur mengalami berbagai tantangan dari sisi permintaan dan produksi. Juru Bicara (Jubir) Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan keempat tantangan yang…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Moch. Ade Maulidin Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 01 July 2026 📖 2 menit
4 Tantangan Dihadapi Industri Manufaktur, Berikut Penjelasan Kemenperin
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan industri manufaktur mengalami berbagai tantangan dari sisi permintaan dan produksi.

Juru Bicara (Jubir) Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan keempat tantangan yang dihadapi industri tersebut.

Pertama, dari sisi produksi, industri harus menghadapi kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi kondisi geopolitik global.

Selain itu, pemadaman listrik di sejumlah wilayah turut mengganggu operasional pabrik yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.

"Dari sisi produksi, pertama itu adalah kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena dampak geopolitik. Ditambah dengan pemadaman listrik. Ada sebagian industri yang operasionalnya itu sepenuhnya bergantung kepada listrik. Tiba-tiba listriknya padam, mereka berhenti produksi karyawannya dipulangkan," katanya saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan pada Selasa (30/6/2026).

Kedua, tekanan harga gas industri yang tinggi terutama gas hasil regasifikasi LNG yang digunakan sebagai bahan baku maupun sumber energi. Meskipun, ada keputusan penurunan harga LNG hasil regasifikasi dari US$23 menjadi US$13 per MMBTU.

"Penurunan itu adalah angin segar bagi industri, agar industri bisa semakin produktif, meningkatkan utilisasi produksi dan meningkatkan daya saing produknya. Dan tentu kami akan terus memantau implementasinya," ujarnya.

Ketiga, industri juga melihat tekanan terhadap daya beli masyarakat dan kenaikan harga bahan pokok dan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax. Hal ini dinilai mengurangi daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur.

"Kemarin juga ada kenaikan harga BBM non-subsidi. Nah, pada konsumen produk industri yang biasanya mengkonsumsi BBM non-subsidi, berarti kan ada tekanan pada pengeluaran rumah tangganya. Nah, itu menyebabkan ruang daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur itu juga berkurang. Meskipun kami tetap optimis bahwa itu akan bisa tetap terkendali ke depan," ujarnya.

Keempat, kenaikan pesimisme pelaku usaha dalam enam bulan ke depan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%. Tingkat optimisme pelaku usaha terpantau berada di level 68,6% atau turun 1,3% dibanding bulan sebelumnya.

Tekanan industri beriringan dengan kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor.

“Kami terus memantau kondisi manufaktur melalui Indeks Kepercayaan Industri (IKI) untuk mendeteksi subsektor yang menghadapi tantangan maupun yang masih tumbuh positif,” ujarnya.

Febri Hendri Antoni Arief mengemukakan jika ditemukan industri yang mengalami tekanan berat, maka Kemenperin akan memanggil atau mendatangi perusahaan terkait guna mengetahui persoalan yang dihadapi, khususnya dari sisi produksi.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai bentuk dukungan sesuai kewenangan kemenperin dan PHK merupakan langkah terakhir yang seharusnya dihindari.

Berbagai mitigasi masih bisa dilakukan, mulai dari penyelesaian persoalan bahan baku, teknologi, hingga aspek pendanaan, meski masalah internal perusahaan seperti sengketa keuangan tetap berada di luar kewenangan pemerintah.

"Kalau soal ketenagakerjaan bukan di kami. Terkait produksi dan kalau misalnya ada faktor-faktor produksi yang mengganggu kami akan menawarkan bantuan. Bantuan apa dari Kemenperin yang bisa kami lakukan atau kami berikan pada industri terkait agar gangguan pada proses produksi itu bisa teratasi dengan baik," ujarnya. (adm)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK