Industri Printing Masuk Era Digital, Kolaborasi Jadi Penentu Daya Saing
FAKTANASIONAL.NET - Pengembangan industri percetakan dan grafika di tengah transformasi digital membutuhkan kolaborasi lintas kementerian. Industri ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan mesin dan teknologi cetak, tetapi telah berkembang menjadi ba…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pengembangan industri percetakan dan grafika di tengah transformasi digital membutuhkan kolaborasi lintas kementerian. Industri ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan mesin dan teknologi cetak, tetapi telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif dan penguatan daya saing produk Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Kreatif Media Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Cecep Rukandi, saat membuka pameran ALLPrint Indonesia 2026 yang diselenggarakan Krista Exhibitions di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (7/10/2026).Menurut Cecep, industri percetakan dan grafika memiliki posisi strategis karena tidak hanya mendukung proses manufaktur, tetapi juga menjadi medium kreativitas yang menghasilkan nilai tambah melalui desain, periklanan, penerbitan, fotografi, hingga berbagai produk berbasis kekayaan intelektual.
“Di sisi lain teknologi dan inovasi printing juga membuka peluang yang semakin luas bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, branding, dan daya saing lainnya,” kata Cecep, dikutip redaksi, Jumat (9/10/2026).
Karena itu, Cecep menilai ALLPrint Indonesia 2026 menjadi salah satu titik temu strategis antara kreativitas, kapasitas industri, serta kewirausahaan dan pengembangan UMKM.
Menurutnya, Kementerian Ekonomi Kreatif memiliki peran dalam pengembangan kreativitas, Kementerian Perindustrian memperkuat kapasitas industri, sedangkan Kementerian UMKM mendorong pengembangan kewirausahaan dan pelaku usaha.
“Sebuah kolaborasi yang diharapkan dapat melahirkan produk kreatif yang bernilai tambah tinggi dan mampu bersaing di pasar nasional dan internasional,” ujarnya.
Bertransformasi di Era Digital
Cecep mengatakan anggapan bahwa industri percetakan dan grafika akan meredup akibat perkembangan teknologi digital justru tidak sepenuhnya terbukti. Sebaliknya, industri percetakan terus bertransformasi dan semakin terintegrasi dengan ekosistem digital.
Perubahan tersebut membuat industri percetakan dan grafika tetap memiliki posisi penting dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Teknologi digital tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga membuka ruang baru bagi inovasi produk, personalisasi, kemasan, promosi, serta pengembangan berbagai kebutuhan industri kreatif.
“Dari 21 subsektor ekonomi kreatif, sektor ini berada di peringkat kelima dengan kontribusi sekitar Rp94 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan total kontribusi 21 subsektor ekonomi kreatif saat ini mencapai sekitar Rp1.757,8 triliun,” ungkap Cecep.
Sementara itu Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Ahmad Mughira Nurhan menegaskan komitmen untuk terus mendukung perkembangan industri percetakan dan grafika melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, penyedia teknologi, dan seluruh pemangku kepentingan industri.
Menurutnya, industri grafika saat ini sedang berada dalam fase transformasi yang sangat dinamis. Perkembangan teknolog: digital, otomatisasi produksi, kecerdasan buatan, serta meningkatnya tuntutan terhadap efisiensi dan keberlanjutan telah mengubah cara industri beroperasi dan melayani pelanggan.
Namun di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat peluang yang sangat besar. Permintaan terhadap produk cetak berkualitas, kemasan inovatif, label, signage, percetakan komersial, dan berbagai solusi komunikasi visual terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Karena itu, pelaku industri grafika Indonesia harus terus meningkatkan daya saing melalui investasi teknologi, pengembangan sumber daya manusia, inovasi produk, serta penerapan praktik usaha yang berkelanjutan.
"Pameran seperti All Print Indonesia Expo memiliki peran yang sangat penting sebagai sarana bertemunya pelaku usaha, investor, pemasok teknologi, dan pengguna industri," katanya.
Melalui pameran ini, pelaku industri percetakan dan grafika dapat melihat perkembangan teknologi terkini, membangun kemitraan baru, memperluas jaringan bisnis, dan menciptakan peluang pertumbuhan yang akan memperkuat industri grafika nasional.
"Saya berharap pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi dan transaksi bisnis, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global," tambah Ahmad Mughira.
Sementara itu, CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan perkembangan industri percetakan saat ini tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menghasilkan produk cetak. Pelaku industri juga dituntut mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, kapasitas produksi, fleksibilitas, dan daya saing.
“Melalui ALLPrint Indonesia, kami mempertemukan pelaku industri dengan teknologi dan solusi yang dapat mereka lihat serta evaluasi secara langsung, sekaligus membuka peluang untuk membangun koneksi dan kerja sama bisnis,” ujar Daud.
Menurut dia, kehadiran peserta dari berbagai negara juga menunjukkan semakin luasnya ekosistem industri yang terlibat dalam perkembangan teknologi percetakan dan grafika di Indonesia.
ALLPrint Indonesia 2026 digelar bersamaan dengan sejumlah pameran pendukung, yakni Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrupted, dan Pro Label Asia.
Pameran tersebut memperluas cakupan industri yang dapat dijangkau pengunjung dalam satu lokasi. Mulai dari percetakan dan grafika, advertising dan signage, digital printing, textile printing, packaging, label, hingga industri terkait lainnya.
Kehadiran berbagai sektor tersebut memperlihatkan semakin terhubungnya rantai industri percetakan dengan kebutuhan manufaktur, ekonomi kreatif, UMKM, hingga pasar global.
Melalui pertemuan antara pelaku usaha, teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan, ALLPrint Indonesia 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang untuk mendorong inovasi, investasi, kolaborasi, dan peningkatan daya saing industri percetakan nasional.
Bagi pelaku usaha yang tengah mengembangkan kapasitas produksi maupun mempertimbangkan investasi teknologi, pameran menjadi ruang untuk memperoleh informasi langsung sebelum mengambil keputusan. Pengunjung dapat melihat demonstrasi mesin dan produk, membandingkan berbagai pilihan teknologi, serta berdiskusi dengan tenaga ahli dan perwakilan perusahaan mengenai solusi yang sesuai dengan kebutuhan produksinya.
Selain pameran teknologi dan solusi industri percetakan, ALLPrint Indonesia 2026 juga menghadirkan rangkaian seminar dan forum industri yang membahas berbagai isu dan perkembangan terbaru di sektor percetakan, grafika, dan packaging.
Sejumlah seminar turut digelar dengan mengangkat berbagai isu dan perkembangan teknologi industri percetakan, di antaranya “Ready for 2027 and onward? The New Rules of Digital Textile Printing”, “The Future of Carton Manufacturing: Smart Machines, Smart Solutions”, serta pembahasan mengenai tren single pass technology untuk digital printing di Indonesia.
MUNAS Asosiasi PPGI menghadirkan tema “Industri Percetakan Memasuki Era Pengadaan Barang dan Jasa Digital”. Sementara isu packaging dibahas melalui topik Food Safety Packaging, Proofing vs Mock Up Proof, serta “Halal Certification and Packaging is Must”.
Sejumlah forum lainnya juga mengangkat sisi bisnis dan kreativitas industri. Asosiasi PRINTRIDI menghadirkan tema “Perkawinan antara 2D dan 3D”, Strategic Forum AMLI 2026, “Dari Spanduk ke Layar Digital: Peluang Omset Baru untuk Pengusaha Percetakan”, hingga “How to Increase Productivity and Quality in Flexo Printing”.
Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan seminar “Jadi ZINE!” dan Universitas Trisakti turut mengisi rangkaian acara melalui Creative Lino Stamp Workshop.
ALLPrint Indonesia 2026 juga memperkuat sisi bisnis melalui program Business Matching dan Hosted Buyer. Program ini mempertemukan exhibitor dengan calon buyer dan pelaku industri yang memiliki kebutuhan serta potensi kerja sama, sehingga membuka kesempatan untuk melakukan pembicaraan bisnis secara lebih terarah.
"Kehadiran program tersebut dapat mendorong terjadinya transaksi, kerja sama baru, serta memperluas jaringan bisnis di industri percetakan dan grafika," pungkas Daud.[Mut]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.