Akselerasi NZE 2060, Pertamina Geber Transisi Energi Terintegrasi di Seluruh Sektor Transportasi
FAKTANASIONAL.NET — PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif transisi energi yang terintegrasi di seluruh lini sektor transport…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif transisi energi yang terintegrasi di seluruh lini sektor transportasi nasional, mulai dari darat, laut, hingga udara.
Komitmen kuat untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060 tersebut ditegaskan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, dalam acara Studium Generale Sustainability di Universitas Pertamina, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
"Seluruh upaya ini kami arahkan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana menjadi komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto," ujar Agung.
Agung memaparkan, di sektor transportasi darat, Pertamina tidak hanya fokus memperkuat ekosistem kendaraan listrik (EV) melalui pembangunan charging station dan battery swapping bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan juga tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang menyatu dengan kawasan perkebunan tebu lokal untuk menjamin pasokan bahan baku secara berkelanjutan.
Sementara di sektor transportasi laut, Pertamina mendorong efisiensi energi armada kapal melalui pemanfaatan dual fuel, pengembangan green ammonia, hingga inovasi pemasangan panel surya di dek kapal untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan secara mandiri.
Untuk sektor penerbangan, Pertamina melalui Pelita Air telah mendukung penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ramah lingkungan ini memanfaatkan minyak jelantah (used cooking oil) sebagai solusi konkret pengurangan emisi karbon di industri aviasi global.
Kolaborasi Akademisi dan Industri Komoditas Hijau
Merespons strategi tersebut, Guru Besar dari University of Southern California (USC) Sol Price, Prof. Marlon Boarnet, yang hadir sebagai pembicara utama menilai dunia saat ini sedang berada di fase awal transformasi mobilitas hijau.
Menurutnya, komoditas seperti biofuel dan drop-in fuels memegang peran sangat krusial sebagai jembatan transisi.
Sementara untuk sektor yang lebih sulit didekarbonisasi seperti pelayaran laut, Prof. Marlon menyebut dibutuhkan solusi energi dengan kerapatan (densitas) tinggi seperti green ammonia. Ia mengingatkan bahwa transisi energi kini sudah menjadi transformasi industri global yang wajib dihadapi lewat kolaborasi erat, bukan lagi sekadar masalah kepatuhan terhadap regulasi.
Sejalan dengan hal tersebut, Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menegaskan bahwa transisi energi tidak dapat dijalankan secara parsial melainkan butuh sinergi lintas sektor yang kuat.
"Transisi energi tidak dapat dijalankan sendiri oleh industri maupun pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi erat antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Universitas Pertamina berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan riset, inovasi, pengembangan SDM, dan aksi nyata guna mendukung terciptanya ekosistem energi berkelanjutan di Indonesia," kata Djoko.
Menutup paparannya, Agung Wicaksono memastikan bahwa Pertamina akan terus mempertajam scenario planning serta strategi transformasi bisnisnya agar seluruh proses dekarbonisasi ini berjalan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.