Alasan PDIP dan PKS Mulai Membangun Komunikasi
Komunikasi antara PDIP dan PKS mulai mencair di tengah polemik ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka. Pakar menilai kedekatan ini bukan koalisi ideologi, melainkan kawin kepentingan sesaat atau koalisi irisan.
FAKTANASIONAL.NET - Peta perpolitikan di Senayan mendadak menjadi sangat dinamis. Dua kubu politik yang biasanya berada di posisi berseberangan kini mulai membuka ruang komunikasi.
Sinyal kedekatan antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini muncul secara mengejutkan. Momen tersebut berbarengan dengan bergulirnya polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Situasi tak biasa ini langsung memicu berbagai spekulasi publik. Banyak pihak bertanya-tanya apakah langkah itu sekadar manuver fraksi atau awal terbentuknya poros baru.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, memberikan pandangannya. Menurut Arifki, cairnya hubungan kedua partai berbeda kutub ini tidak bisa langsung dianggap sebagai koalisi permanen.
Perbedaan ideologi, basis massa pemilih, hingga rekam jejak mereka sangatlah bertolak belakang. Kendati demikian, dalam politik praktis, jurang perbedaan bisa runtuh seketika ketika ada kalkulasi kepentingan yang beririsan.
“Ini bukan soal kawin ideologi, melainkan kemungkinan kawin kepentingan,” ujar Arifki di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa dua partai tidak harus sejalan dalam segala hal untuk bersatu menghadapi satu persoalan politik tertentu.
Jika ditarik ke belakang pada Pilpres 2024, kedua partai ini jelas berdiri di panggung berbeda. PDIP mengusung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.
Sementara itu, PKS kokoh menyokong pencalonan Anies Baswedan bersama Muhaimin Iskandar. Oleh sebab itu, Arifki menilai kedekatan saat ini sebagai fenomena 'koalisi irisan'.
Artinya, kerja sama tersebut hadir bukan karena penyatuan visi secara utuh. Hubungan itu terjalin semata-mata karena ada isu spesifik yang mempertemukan agenda politik mereka di parlemen.
Arifki menegaskan bahwa tidak semua kedekatan politik harus berujung pada perkawinan koalisi besar. Target politik antara PDIP dan PKS pun belum tentu sepenuhnya sama.
Masing-masing kubu pasti membawa kalkulasi dan arah bidikan tersendiri dari isu yang sedang bergulir. Publik diingatkan agar tidak hanya melihat siapa yang duduk bersama, melainkan mencermati agenda serta keputusan yang mereka ambil.
Ujian sesungguhnya dari kemesraan politik ini baru akan terlihat nanti. Tolok ukurnya adalah ketika isu seputar Gibran sudah mulai mereda dari panggung utama nasional.
Jika kedua partai tetap konsisten berjalan seirama dalam mengawal berbagai isu strategis lainnya, komunikasi itu bisa mengristal. Sebaliknya, jika kerenggangan kembali terjadi setelah isu berlalu, kedekatan ini terbukti hanya sebatas solidaritas situasional belaka.[ayu]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.