Ambisi MBG Jangan Sampai Menjadi Mesin yang Merusak Generasi Bangsa
KITA melihat terang-terangan ironi besar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Negara ingin membangun generasi sehat melalui makanan bergizi, tetapi di sejumlah tempat justru muncul anak-anak yang sakit setelah menyantap makanan yang dibagikan a…
Dengarkan Ringkasan
KITA melihat terang-terangan ironi besar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Negara ingin membangun generasi sehat melalui makanan bergizi, tetapi di sejumlah tempat justru muncul anak-anak yang sakit setelah menyantap makanan yang dibagikan atas nama program negara.
Di titik ini, pemerintah tidak boleh hanya sibuk menghitung berapa porsi makanan yang telah dibagikan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa porsi yang benar-benar aman?
Sebab satu porsi makanan yang terkontaminasi mungkin hanya terlihat sebagai kesalahan kecil di atas kertas.
Tetapi bagi seorang anak, kesalahan itu bisa berarti muntah, diare, dehidrasi, dirawat di rumah sakit, kehilangan hari sekolah, bahkan trauma untuk kembali menyentuh makanan.
Dan ketika korban berjumlah ratusan, persoalannya tidak lagi layak disebut sebagai insiden biasa.
Ini adalah alarm tata kelola.
Berbagai kasus dugaan keracunan MBG memperlihatkan bahwa penyebabnya tidak bisa dipukul rata. Kontaminasi bakteri, sanitasi buruk, persoalan bahan baku, penyimpanan, hingga distribusi yang tidak sesuai prosedur dapat menjadi mata rantai persoalan.
Dalam kasus tertentu, bahan makanan yang terlalu lama berada pada suhu yang tidak semestinya bahkan dapat menjadi sumber bahaya.
Artinya, problem MBG bukan sekadar soal siapa yang memasak.
Problemnya adalah seberapa kuat sistem mengawasi makanan sebelum makanan itu masuk ke tubuh anak-anak.
Di sinilah negara harus berhenti menggunakan logika proyek.
Proyek mengejar target. Negara seharusnya mengejar keselamatan.
Jika target utama adalah jumlah penerima dan jumlah porsi yang tersalurkan, maka ada risiko keselamatan pangan menjadi angka sekunder.
Padahal dalam urusan makanan untuk anak-anak, logikanya harus dibalik: aman terlebih dahulu, baru masif.
Tidak ada prestasi dalam membagikan jutaan porsi makanan apabila sebagian di antaranya justru membuat penerimanya sakit.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampak yang tidak selalu masuk statistik.
Keracunan makanan pada anak bukan hanya perkara sakit sehari atau dua hari. Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan serta gangguan elektrolit.
Infeksi bakteri tertentu dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Dalam kondisi tertentu, gangguan kesehatan bahkan dapat berlanjut setelah fase akut berlalu.
Kemudian muncul persoalan yang jauh lebih sunyi: trauma.
Bayangkan seorang anak yang sebelumnya menunggu makanan sekolah dengan gembira, kemudian mengalami sakit setelah menyantapnya.
Ketika makanan berikutnya datang, yang muncul bukan rasa lapar, tetapi ketakutan.
Bagaimana mungkin sebuah program perbaikan gizi berhasil jika penerimanya justru takut makan?
Ini bukan pertanyaan retoris semata. Ini adalah pertanyaan tentang desain kebijakan publik.
Program sosial berskala nasional tidak boleh hanya dinilai dari sisi input dan output. Pemerintah harus menghitung dampaknya terhadap penerima manfaat. Berapa anak yang sakit?
Berapa yang harus dirawat?
Berapa yang kehilangan waktu belajar?
Berapa keluarga yang menanggung beban tambahan? Dan berapa banyak anak yang membutuhkan pemulihan psikologis?
Jangan sampai semua itu hilang di balik laporan bahwa “program berjalan”.
Sebab program pemerintah bukan lomba membuat laporan keberhasilan.
Program pemerintah adalah kontrak kepercayaan dengan rakyat.
Orang tua menyerahkan sebagian kepercayaannya kepada negara ketika anak menerima makanan dari program MBG.
Mereka berhak percaya bahwa makanan tersebut telah melewati standar keamanan yang ketat.
Jika ternyata prosedur dilanggar, pengawasan lemah, distribusi terlambat, atau bahan makanan tidak ditangani dengan benar, maka yang rusak bukan hanya makanan.
Yang rusak adalah kepercayaan.
Karena itu, pemerintah perlu berani melakukan evaluasi tanpa kosmetik.
Jangan berhenti pada pencopotan petugas atau permintaan maaf setelah kejadian. Telusuri seluruh rantai persoalan: pengadaan bahan baku, standar pemasok, kompetensi pengelola, kebersihan dapur, pengendalian suhu, waktu memasak, pengemasan, transportasi, hingga makanan tiba di tangan siswa.
Setiap titik harus dapat diaudit.
Dan ketika terjadi insiden, transparansi tidak boleh dianggap sebagai ancaman terhadap citra pemerintah.
Justru keterbukaan adalah cara menyelamatkan program.
Masyarakat tidak membutuhkan narasi bahwa MBG sempurna. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang berani mengatakan: di sini ada kesalahan, ini penyebabnya, ini korbannya, dan ini yang kami perbaiki.
Lebih penting lagi, pemerintah tidak boleh gegabah menyimpulkan bahwa seluruh kasus keracunan berasal dari satu penyebab atau satu pihak.
Dugaan harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium dan investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab mencari kebenaran jauh lebih penting daripada mencari kambing hitam.
MBG sendiri bukan musuh. Bahkan gagasannya memiliki tujuan sosial yang besar: memastikan anak-anak mendapatkan asupan bergizi.
Tetapi niat baik tidak otomatis menghasilkan kebijakan yang baik.
Niat baik tanpa pengawasan dapat berubah menjadi kelalaian.
Dan kelalaian dalam urusan makanan anak bukan kesalahan administratif biasa.
Ia menyentuh tubuh manusia.
Menyentuh masa depan keluarga.
Menyentuh masa depan bangsa.
Karena itu, yang harus diakhiri bukan MBG semata. Yang harus diakhiri adalah budaya “yang penting tersalurkan”, budaya “yang penting target tercapai”, dan budaya menganggap insiden sebagai sesuatu yang dapat dilupakan setelah konferensi pers selesai.
Jika MBG ingin dikenang sebagai warisan kebijakan yang menyelamatkan generasi, pemerintah harus membuktikan bahwa keselamatan anak berada di atas ambisi statistik.
Jangan sampai sejarah mencatat sebuah ironi: negara menggelontorkan anggaran besar untuk memperbaiki gizi anak, tetapi gagal memastikan makanan itu aman.
Bangsa yang serius membangun generasi tidak boleh bermain-main dengan sepiring makanan.
Sebab bagi pemerintah, itu mungkin hanya satu porsi MBG.
Bagi seorang anak, itu adalah makanan yang masuk ke tubuhnya.
Dan bagi orang tuanya, itu adalah kepercayaan yang mereka titipkan kepada negara.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.