Fakta Nasional

Antisipasi Kepadatan di Jamarat, Kemenhaj Siagakan Tim 'Mobile Crisis Rescue' Selama Fase Mina

FAKTANASIONAL.NET — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia terus memperkuat sistem pelindungan bagi jemaah haji Indonesia yang kini tengah menjalani fase krusial di Mina. Langkah strategis diambil dengan menyiagakan tim Mobile Cris…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 29 May 2026 📖 3 menit
Antisipasi Kepadatan di Jamarat, Kemenhaj Siagakan Tim 'Mobile Crisis Rescue' Selama Fase Mina
Kemenhaj mencatat hingga Jumat (19/6) sebanyak 121.301 jemaah dan petugas telah kembali ke Tanah Air./Dok. Ist
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia terus memperkuat sistem pelindungan bagi jemaah haji Indonesia yang kini tengah menjalani fase krusial di Mina. Langkah strategis diambil dengan menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) secara khusus di kawasan Jamarat.

Tim MCR tersebut dipersiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan massa saat para jemaah melaksanakan prosesi lontar jumrah pada hari Tasyrik. Keberadaan tim respons cepat ini menjadi bagian vital dari penguatan layanan kedaruratan selama puncak ibadah haji di fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan bahwa penempatan posko MCR berada di titik-titik paling strategis di area Jamarat serta rute-rute utama perlintasan jemaah. Hal ini bertujuan agar para petugas dapat melakukan pemantauan visual secara langsung dan bergerak cepat merespons setiap situasi darurat.

Baca Juga: Sempat Hilang Seminggu di Makkah, Jemaah Haji Lansia Asal Jakarta Ditemukan Meninggal Dunia

“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria Assegaff di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Maria menguraikan, MCR dibentuk dengan mandat khusus untuk menangani berbagai problem lapangan yang kerap menimpa jemaah akibat kelelahan. Petugas medis dan evakuasi di dalam tim ini dilatih secara responsif.

“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.

Prioritaskan Jemaah, Kerahkan 1.356 Petugas Satgas Mina

Komitmen Kemenhaj dalam menghadirkan pelaksanaan haji yang ramah lansia, disabilitas, dan perempuan tecermin dari masifnya sebaran petugas. Secara total, ada 1.356 personel Satgas Mina yang dikerahkan. Mereka disebar di sepanjang jalur pejalan kaki, terowongan, hingga pos pantau khusus seperti di Jalan 616, Jalan 533, depan RS Mina Al-Wadi, hingga Terowongan Muaisim.

“Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tegas Maria.

Jadwal Resmi Lontar Jumrah dan Larangan Waktu Melontar

Guna menghindari risiko fatal akibat penumpukan massa dan sengatan cuaca panas ekstrem, Kemenhaj merilis jadwal resmi serta waktu larangan melontar bagi jemaah haji Indonesia pada 11-13 Dzulhijjah 1447 H:

  • 11 Dzulhijjah:

    • Sesi I: Pukul 17.00 - 24.00 WAS.

    • Sesi II: Pukul 00.00 - 04.00 WAS (masuk tanggal 12 Dzulhijjah).

    • Waktu Larangan: Pukul 11.00 - 18.00 WAS.

  • 12 Dzulhijjah:

    • Sesi I: Pukul 05.00 - 10.30 WAS.

    • Sesi II: Pukul 18.00 - 24.00 WAS.

    • Waktu Larangan: Pukul 11.00 - 14.00 WAS.

  • 13 Dzulhijjah:

    • Jadwal Melontar: Pukul 05.00 - 12.00 WAS (Tidak ada waktu larangan khusus).

Jemaah Dilarang Berangkat Sendiri

Kemenhaj mengimbau dengan sangat agar jemaah disiplin mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, maupun pembimbing ibadah. Jemaah dilarang keras memisahkan diri atau mencoba mengambil jalan pintas yang tidak resmi menuju Jamarat.

“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” imbau Maria.

Mengingat cuaca di Mina pada siang hari sangat terik, jemaah juga diminta rajin mengonsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, memakai pelindung kepala, serta membatasi aktivitas fisik di luar tenda yang kurang diperlukan.

“Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat,” lanjutnya.

Kemenhaj memastikan kesiapan seluruh instrumen pendukung di Armuzna, mulai dari konsumsi, akomodasi, kesehatan, hingga transportasi, demi mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, dan mabrur.

“Kami mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutup Maria.

Baca Juga: Ibadah Umrah di Tengah Ketegangan Global, Wamenhaj Dahnil Anzar Langitkan Doa Perdamaian untuk Haji 2026


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK