Antisipasi Proteksionisme AS, Indonesia Ajukan Pengecualian Tarif Impor untuk 18 Produk Manufaktur
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah Indonesia bergerak cepat mengamankan posisi perdagangan internasionalnya jelang pemberlakuan kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) pada 24 Juli 2026. Sebanyak 18 komoditas dan produk manufaktur nasional kini…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah Indonesia bergerak cepat mengamankan posisi perdagangan internasionalnya jelang pemberlakuan kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) pada 24 Juli 2026.
Sebanyak 18 komoditas dan produk manufaktur nasional kini tengah diupayakan agar terbebas dari jerat tarif proteksionis tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, langkah penyelamatan ini ditempuh dengan mengajukan daftar produk agar mendapat pengecualian resmi melalui skema Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS 1974.
Baca Juga: Haidar Alwi Sebut Pelemahan Rupiah dan IHSG Adalah Upaya Asing Menguasai Ekonomi Indonesia
"Tarif nanti sesudah tanggal 24 Juli baru bisa ketahuan. Yang diajukan itu produk yang diproduksi di Indonesia, komoditas kebun, termasuk spare parts," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Peluang keberhasilan diplomasi dagang ini dinilai cukup besar. Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebutkan, posisi tawar Indonesia di mata Washington berada di kelompok negara dengan rekam jejak yang baik, berbeda dari sejumlah negara mitra yang menjadi sasaran utama investigasi kapasitas produksi berlebih (excess capacity) dan dugaan praktik kerja paksa.
"Posisi Indonesia yang kuat di dalam kelompok baik, ditambah niat AS mengabulkan seluruh 18 pengecualian, menempatkan Indonesia pada pijakan yang menguntungkan," ungkap Susiwijono.
Tidak berhenti pada 18 produk utama, pemerintah juga tengah menyiapkan usulan bagi sekitar 1.700 komoditas tambahan agar memperoleh perlakuan tarif yang lebih kompetitif.
Mengingat AS merupakan salah satu pasar tradisional terbesar, hasil dari negosiasi ini diproyeksikan bakal menjadi penentu utama kinerja ekspor nasional pada paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: Bamsoet Dampingi Wagub Hebei China Bertemu Menko Airlangga
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.