Fakta Nasional

Baju Adat Menteri Agama Tuai Kontroversi, Netizen Justru Sentil Bungkamnya Pemimpin Daerah Aceh

FAKTANASIONAL.NET - Jagat media sosial kembali memanas. Berdasarkan pemberitaan pada 11 Mei 2026, sebuah unggahan video memicu perdebatan sengit usai menarasikan penampilan Menteri Agama yang berpakaian adat Aceh sebagai bentuk pelecehan budaya. Ali…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 12 May 2026 📖 1 menit
Baju Adat Menteri Agama Tuai Kontroversi, Netizen Justru Sentil Bungkamnya Pemimpin Daerah Aceh
Baju Adat Menteri Agama Tuai Kontroversi, Netizen Justru Sentil Bungkamnya Pemimpin Daerah Aceh/(Foto: Facebook)

FAKTANASIONAL.NET - Jagat media sosial kembali memanas. Berdasarkan pemberitaan pada 11 Mei 2026, sebuah unggahan video memicu perdebatan sengit usai menarasikan penampilan Menteri Agama yang berpakaian adat Aceh sebagai bentuk pelecehan budaya.

Alih-alih hanya mengkritik sang pejabat negara, amarah warganet justru bergeser dan menyoroti sikap pasif dari para tokoh serta pemimpin daerah Serambi Mekkah.

Polemik panas ini bermula dari unggahan akun bernama "Nanggroe Aceh" di sebuah platform video pendek.

Dalam tayangan tersebut, terlihat Menteri Agama tengah berdiri memberikan pidato kenegaraan berbalut busana adat Aceh.

Kontroversi meledak akibat teks berukuran besar yang sengaja disematkan kreator di dalam video. Teks itu secara provokatif menuding bahwa penggunaan baju adat tersebut merupakan tindakan melecehkan rakyat Aceh.

Pada kolom keterangan, sang pengunggah juga mempertegas bahwa aksi pejabat negara itu merendahkan nilai-nilai keislaman di wilayah tersebut.

Walaupun mengenakan pakaian adat merupakan tradisi kebhinekaan yang lumrah bagi pejabat saat hari besar, narasi ini telanjur menyulut emosi massa.

Unggahan yang meraup ribuan impresi itu seketika dibanjiri reaksi tajam. Menariknya, sasaran kekecewaan warganet meluas hingga ke Pemerintah Provinsi Aceh.

Akun bernama Cekmad Amnisa secara terbuka mempertanyakan alasan pemerintah setempat yang seakan bungkam melihat provokasi tersebut.

Kritik senada dilontarkan oleh Zuddin Jalil yang mengeluhkan diamnya para pemimpin daerah menggunakan bahasa lokal. Sindiran paling menohok datang dari akun Wahyu Wahyu.

Dengan campuran bahasa yang bernada keras, ia menyayangkan hilangnya keberanian pemimpin Aceh masa kini yang dianggap hanya mencari aman kepada pusat, jauh berbeda dari nyali para pendahulu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Kementerian Agama terkait konteks acara, maupun tanggapan dari Pemerintah Provinsi Aceh.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK